Analis kebijakan ahli muda bidang pemberdayaan pemuda Dispora Kaltim Hasbar

SWARAREPUBLIKA.com, SAMARINDA - Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) sebut masih kurangnya pemuda yang ingin terlibat dalam organisasi. Analis Kebijakan Ahli Muda Bidang Pemberdayaan Pemuda Dispora Kaltim, Hasbar menyebutkan pemerintah punya tanggung jawab terkait bagaimana menggugah generasi muda untuk aktif berorganisasi.

“Karena pemimpin sekarang itu tidak tiba-tiba, bukan instan. Mereka besar dari organisasi, salah satunya itu wadah berorganisasi yang masih terbatas di pelosok,” kata Hasbar.

Mulai dari kecamatan, kelurahan, hingga RT, tidak semua organisasi ada. Tapi, organisasi yang ada di kabupaten/kota ada di kecamatan.

Dikatakan Hasbar, salah satu organisasi yang ada diseluruh kecamatan yang ada di kabupaten/kota adalah karang taruna. “Dan dulu kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh karang taruna itu pernah berjaya.

Sekarang karang taruna itu hidup segan, mati tak mau,” bebernya. Sebab, apabila di bagian sosial, data untuk karang taruna sudah benar-benar tidak ada lagi. Sebab mereka tidak punya anggaran untuk memberdayakan anggota.

Diakui melalui Kepala Dispora Kaltim, Agus Hari Kesuma yang saat ini juga menjabat sebagai Pjs Bupati Kutai Timur (Kutim) mulai memberdayakan karang taruna.

(ADV/Dispora Kaltim)

Kepala Bidang Pembudidaya olahraga Dispora Kaltim AA Bagus Saputra Sugiarta 

SWARAREPUBLIKA.com, Samarinda - Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) mengajak mitranya untuk berkunjung ke Yogyakarta. Diantaranya, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI).

Yang disusul dengan Komite Olahraga Masyarakat (Kormi), Badan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (Baopsi) dan Seksi Wartawan Olahraga (Siwo). Dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Pembudidaya Olahraga Dispora Kaltim, AA Bagus Saputra Sugiarta bahwa mereka dibawa supaya bisa mengadopsi progam.

“Kami bawa supaya mitra kita bisa melihat secara langsung, apa yang menjadi program-program mereka. Jadi memang sengaja kami bawa,” kata Bagus Semua jenis patriot olahraga dibawa, karena dasarnya memang dari masyarakat umum yang dimulai dari usia dini.

Di sana, mereka belajar dan sama-sama diskusi, terkait kiat-kiat apa yang menjadi kunci kesuksesan Yogyakarta dalam olahraga tradisional. “Prestasinya seperi apa, jadi kuncinya apa. Itu yang hadir Dispora Kaltim bersama organisasi dibawah mitra kami ke sana,” tegasnya.

Mereka juga mempelajari teknik, termasuk lapangan cabang olahraga (cabor).

(ADV/Dispora Kaltim)

Kaltim raih Dua perunggu untuk perorangan dan beregu dalam Cabot sepatu roda 

SWARAREPUBLIKA.com, Samarinda - Pelatih sepatu roda Kaltim, Romiansyah ungkap dua perunggu didapatkan Adam untuk perorangan 200 meter, dan beregu 500 DT Adam, Rangga dan Evan. Sempat sebulan penuh berlatih di DKI Jakarta, dengan alasan menyamakan lintasan dengan venue tanding di Kabupaten Pidie, menjadi pukulan terberat.

“Kendalanya adalah karena kita pakai lapangan orang, kan kita nyewa, jadi ada sedikit kendala adalah di waktulah,” tegasnya. Di mana, menurut Romi, ideal latihan meroda adalah 4 jam lebih.

Sedangkan Kaltim hanya mendapatkan jatah 3 jam saja. “Harusnya 4 jam main, atau kita bisa seharian latihan inikan terkendala. Namanya kita di tempat orang, jadi kita dari jam 9-12 saja latihan,” bebernya.

Waktu latihan yang ada dikatakan Romi sangat kurang. Karena DKI Jakarta atau tuan rumah tentu memakai lapangan seharian. “Dia masuk langsung, dari jam 1 siang sampai malam latihan. Kalau kita dikasih waktu hanya beberapa jam saja, kalau arena hampir mirip seperti di venue tanding di Pidie,” imbuhnya.

Menjelaskan detail tempat, lapangan yang disewa oleh Kaltim ini indoor. Sedangkan saat bertanding, venue di Kabupaten Pidie adalah outdoor.

(ADV/Dispora Kaltim)

Atlet sepatu roda Kalimantan Timur (kaltim)

SWARAREPUBLIKA.com, Samarinda - Cedera pada atlet diakui pelatih sepatu roda Kaltim sebagai penyebab hanya pulang dengan dua medali perunggu di PON. “Karena Evan Jatuh, Rangga kecapekan. Jadi tim fisiotherapy tidak ada yang datang ke venue tanding di Kabupaten Pidie,” tuturnya.

Dikatakan juga Evan, Rangga dan Adam juga alumni PON Papua. Sedangkan tim putri baru pertama kali berjuang di PON ini. “Kalau mereka ini betul-betul sudah diprediksi dapat medali itu. Karena itu saya bilang coba kemarin ada di fisiotherapy,” tegasnya.

Kendala fisiotherapy, Romi juga melarang atletnya untuk konsumsi obat. Terlebih saat bertanding, untuk menghindari kemungkinan terburuk. “Kalau untuk evan mungkin sudah stop ya, dia tidak lagi bermain di PON NTB dan NTT yang akan datang. Mungkin yang lanjut Adam dan Rangga,” tegasnya.

Dikatakan Romi, dia masih belum mengetahui apakah cabang olahraga (cabor) sepatu roda dipertandingkan. Sebab, kabar terbaru hanya 40 cabor yang dipertandingkan saat pelaksanaan PON di NTB dan NTT mendatang.

“Kami belum tahu ini, apakah di PON NTB dan NTT sepatu roda dipertandingkan. Saya lihat terakhir cuma 20 cabor yang sudah dj list oleh KONI Pusat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga (PPO) Dispora Kaltim, Rasman Rading meminta sepatu roda untuk bisa lebih selektif pada atletnya.

(ADV/Dispora Kaltim)

Wakil ketua Komite Olahraga Nasional (KONI) Kaltim Ego Arifin 

SWARAREPUBLIKA.com, Samarinda - Kendala non teknis di lapangan tanding masih menjadi masalah bagi atlet-atlet, khsususnya di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh dan Sumaera Utara (Sumut) lalu. Dikonfrimasi Wakil Ketua Komite Olahraga Nasional (KONI) Kalimantan Timur (Kaltim), Ego Arifin membenarkan hal itu.

“Keputusan sudah ditetapkan wasit, itu namanya kendala non teknis. Tapi selama sudah diputuskan, ya apa boleh buat, itu olahraga,” kata Ego.

Dia mencontohkan cabang olahraga (cabor) outdoor, mereka kurang beradaptasi dengan lapangan atau venue tanding. “Dan memang, tuan rumah tentu tidak mau memberikan pengenalan pada provinsi yang menjadi lawannya. Tapi alasan itu diberikan beberapa pelatih,” tuturnya.

Sehingga, disayangkan saat mereka tampil dilapangan, tidak bisa maksimal, karena lokasi tanding berbeda dengan saat mereka latihan. “Di venue tanding kelok-kelok, yang di sini lurus saja umpamanya. Tapi semua hal juga mengalami hal yang sama,” tegasnya. “Woodball, mengaku mereka diceritain soal sunami, sehingga kosentrasi mereka ke sunami.Kami patahkan, sunami ya semua atlet kena,” jelasnya.

Beberapa alasan atau penyebab terjadinya banyak kendala saat bertanding juga disoroti Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim. Menurut Kepala Bidang (Kabid) Peningkatan Prestasi Olahraga (Binpres), Rasman Rading bahwa beberapa kendala ini harus dilakukan evaluasi diinternal cabor.

Apalagi masih ada empat tahun persiapan menuju PON yang akan datang. Dia jug mengahrapkan KONI Kaltim lebih ketat dalam menyeleksi atlet.

(ADV/Dispora Kaltim)

Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim AA Bagus Saputra Sugiarta

SWARAREPUBLIKA.com, Samarinda - Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) baru saja mengikuti rapat kerja di Yogyakarta.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Bidang (Kabid) Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim, AA Bagus Saputra Sugiarta. “Rapat kerja bidang pembudayaan, di rapat kerja pembudayaan itu dibahas terkait program-program apa yang menunjang kabupten/kota, untuk kegiatan terkait yang ada di provinsi,” kata Bagus.

Di mana, dalam rapat itu mereka menyamakan satu persepsi dan satu kesepakatan. Dalam arti kesepakatan kalau di bidang pemudayaan, terkait bagaimana minat masyarakat dalam olahraga. “Bagaimana meningkatkan partisipasi masyarakat di dalam keikutsertaan dalam olahraga tradisional,” jelasnya.

Bagus menjelaskan, Yogyakarta di pilihak karena tak butuh pengakuan, Yogya secara budaya bagus. “Olahraga tradisionalnya pun juga tidak kalah bagus dan berjalan. Maka dari itu, kita mencoba mengadopsi program-program kegiatan yang ada di sana,” tuturnya.

Di sana, mereka melihat program pelaksanaan kegiatan dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dinas Dikpora) Yogyakarta.

(ADV/Dispora Kaltim)

Atlet kaltim meraih dua penghargaan perak di PON Aceh dan Sumut 

SWARAREPUBLIKA.com, Samarinda - Komite olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur (Kaltim) telah melakukan evaluasi terhadap capaian Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).

Dikatakan Wakil Ketua I Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres), Ego Arifin, bahwa para pelatih sudah melakukan laporan dan hasil pertandingan. “Itukan hasil dan pangan mata serta yang mereka alami. Pelatih terhadap atletnya bertanding dilapangan. Dominan, mental atlet masih dibawah,” kata Ego.

Salah satu contoh, mereka berhadapan dengan atlet nasional, kemudian goyang. Kemudian, sama halnya saat berhadapan dengan tuan rumah. Artinya dengan goyangnya itu, menandakan mental mereka atau kepercayaan diri mereka yang kurang, dan masih dibawah kendali emosial mereka. “Kemudian masalah mental itu berdampak kepada penampilan.

Contohnya kita banyak perak, mereka di final sudah statmen, aduh ketemu pelatnas,” tegasnya. “Sama kita kan banyak yang dari junior ke dewasa, nah itu mentalnya juga sama. Kalau memang mentalnya mantap, perak kita tidak akan 55,” lanjutnya.

Sementara itu, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim juga menyoroti terkait dengan mental yang mendominasi gagalnya atlet di final. Kepala Bidang (Kabid) Peningkatan Prestasi Olahraga (Binpres) Dispora Kaltim, Rasman Rading juga menyadari hal serupa itu. “Itulah pentingnya kita lakukan pembinaan atlet-atlet secara terpadu, sistematis dan berkesinambungan. Telebih masalah mental ini,” tegasnya.

Dia menekankan evaluasi dimasing-masing cabor, untuk menatap PON XXII/2028 di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) mendatang.

(ADV/Dispora Kaltim)

Peserta Cabot sepatu roda pada PON XXI di Aceh dan Sumut

SWARAREPUBLIKA.com, Samarinda - Cabang olahraga (cabor) sepatu roda gagal mencapai target satu emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) lalu. Diketahui cabor sepatu roda itu bermain di Kabupaten Pidie.

Pada Babak Kualifikasi (BK) PON lalu, mereka berhasil meraih 11 emas. Namun, disayangkan saat bermain di PON, mereka hanya mendapatkan dua perunggu saja, dari keseluruhan nomor yang mereka ikuti. Pelatih sepatu roda Kaltim, Romiansyah mengatakan ada 4 putra dan 4 putri yang berangkat dan bertanding di PON lalu. “Empat putra dan empat putri yang bermain semua nomor main.

Dari 200,500 riley dan beregu. Kita dapat di perorangan 200 meter dan beregu 500 meter,” kata pria yang akrab disapa Romi itu. Mengaku lepas target 1 emas, Romi menjelaskan 11 emas di BK PON lalu terbilang mudah didapatkan karena Kaltim main berdasarkan wilayah. Sehingga, lawan kuat seperti Pulau Jawa tak ada didalamnya.

Diketahui, di wilayah ini Kaltim menduduki juara umum. “Kalau di BK PON kita kan pakai zona wilayah, karena lawannya juga tidak terlalu berat kita hadapi. Tapi kalau di PON ini kita hadapi DKI Jakarta, Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Barat (Jabar),” imbuhnya.

Khusus wilayah Pulau Jawa ini menjadi tantangan terbesar dari squadnya. Romi menjelaskan hanya bisa pulang dengan dua perunggu. “Tapi atlet kita yang masuk final itu sebetulnya beberapa kali masuk final. Dan di final itulah penentuan, jadi hanya diurutan ke 4 dan ke 5,” imbuhnya.

(ADV/Dispora Kaltim)

Ketua umum komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim Rusdiansyah Aras

SWARAREPUBLIKA.com, Samarinda - Kalimantan Timur (Kaltim) berhasil menduduki posisi kedelapan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) lalu.

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim, Rusdiansyah Aras menyampaikan permohonan maaf pada seluruh masyarakat. “Pertama-tama saya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat olahraga Kaltim. Kami juga harus bertanggung jawab, karena itu saya sampaikan kami gagal dan kami memohon maaf,” kata Rusdi.

Meskipun begitu, raihan medali di PON kali ini melampaui raihan di PON XX Papua 2021 lalu. Yakni 29 emas, 55 perak dan 68 perunggu. Angka ini naik 30 persen dari PON sebelumnya. “Tetapi bukan itu yang ingin kami sampaikan pada masyarakat. Kami telah mencanangkan target 5 besar.

Apapun ceritanya, karena ini tidak masuk 5 besar, kami harus minta maaf,” jelasnya. Dikatakan, kerja keras ini adalah tanggung jawab darinya sendiri. Rusdi juga menegaskan, tidak akan mencari kambing hitam, dan tak menyalahkan pihak manapun. “Kami juga tidak mencari kambing hitam karena kegagalan meraih 5 besar. Itu yang harus kami lakukan,” turutnya.

Tapi, untuk total raihan medali dari PON yang berlangsung di Kaltim tahun 2008, Kaltim berada di peringkat ketiga dengan 116 medali emas, 111 perak dan 115 perunggu. “Pada PON di riau tahun 2012 kita masih berada di lima besar, dengan 44 emas, 45 perak dan 50 perunggu,” imbuhnya.

Begitu juga saat tampil di Jawa Barat (Jabar) tahun 2016, Kaltim meraih 25 emas, 41 perak dan 73 perunggu. Dari 3 PON yang dijelaskan, Kaltim mengalami peningkatan yang sangat signifikan sebanyak 30 persen. “Tetapi memang kita tidak membaca kekuatan tuan rumah, antara Aceh dan Sumut.

Jujur, sport intelejen kami gagal dalam menatap kekuatan itu. Hingga akhirnya mereka merebut posisi,” tuturnya. Aceh berada di peringkat ke 6 dan Sumut ada di 5.

Namun, beberapa daerah luar Jawa yang biasa masuk 10 besar kini tergeser. Seperti Bali yang menjadi kekuatan tertinggi di luar Pulau Jawa. Bahkan, sangat di herankan Jawa Tengah (Jateng) turun peringkat, usai Aceh dan Sumut jadi tuan rumah.

(ADV/Dispora Kaltim)

Wakil ketua 1 KONI Kaltim Ego Arifin saat diwawancarai 

SWARAREPUBLIKA.com, Samarinda - Ada 14 cabang olahraga (cabor) yang gagal bawa medali usai berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).

Wakil Ketua I Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur (Kaltim) Ego Arifin juga mengakui hal tersebut. “Ada beberapa cabor yang gagal total, atau artinya mereka gagal membawa pulang satupun medali, ya 14 itu tadi,” kata Ego, Rabu (9/10/2024).

Namun, Ego menegaskan mereka tentu sudah berjuang. Tentu mereka tidak mau atas kegagalan itu. Tetapi di lapangan faktanya mereka belum mampu bersaing dengan provinsi lain di ajang PON. “Yang kedua, di lapangan atau dipertandingan PON itu, bahwa mereka bukan hanya kesiapan teknik, fisik dan tim, tapi mental mereka masih dibawah rata-rata,” tuturnya.

Dikatakan Ego, jika mental atlet dibawah rata-rata, seharusnya pelatih tahu. Menurutnya, hal itu harusnya sudah diperhatikan sejak awal oleh pelatih. “Harusnya dari awal di push terkait kesiapan mental ini. Kan cukup waktu selama enam bulan ini, untuk mempelajari atau mengevaluasi kondisi atletnya.

Jadi bukan hanya sekadar latihan,” imbuhnya. Hal ini memang diakui menjadi kekurangan didalam cabor. Dan ini adalah kondisi nasional sebetulnya. Dia juga sudah berkoordinasi dengan daerah lain terkait hal ini. “Tapi tidak semua, rata-rata nasional di luar Pulau Jawa begitu.

Mental atlet, kemudian, setelah mental atlet. Tapi kita harus bijak juga, tidak menyudutkan atlet tidak mampu, tapi harus dilihat. Kan ada pelatih,” pungkasnya.

(ADV/Dispora Kaltim)