Kepala DKK Balikpapan Alwiati

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan - Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Kesehatan Kota (DKK) memastikan bahwa proses pembangunan Rumah Sakit (RS) di Balikpapan Timur sedang berlangsung.

Kepala DKK Balikpapan, Alwiati, menyatakan bahwa saat ini pihaknya tengah mempersiapkan Detail Engineering Design (DED) untuk proyek tersebut. “DED-nya sudah mulai dibuat, dan diharapkan dalam waktu dekat semuanya dapat diselesaikan,” ujar Alwiati setelah mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-79 di BSCC, Sabtu (17/8/2024).

Alwiati menjelaskan bahwa proses tender jasa konsultasi dilakukan dalam dua tahap, yaitu daftar panjang terlebih dahulu, kemudian daftar pendek. Anggaran yang telah disiapkan untuk DED ini sebesar Rp2,6 miliar, dan proses tendernya kini sudah mencapai tahap daftar pendek.

Pembangunan RS di Balikpapan Timur menjadi sebuah harapan besar bagi masyarakat setempat. Selama ini, mereka harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan, seperti menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Kanudjoso Djatiwibowo yang terletak di Jalan MT Haryono, Kecamatan Balikpapan Utara.

Langkah Pemkot Balikpapan ini membawa angin segar bagi warga yang sudah lama menanti kehadiran RS di kawasan mereka. Dengan adanya RS baru di Balikpapan Timur, diharapkan masyarakat akan mendapatkan akses kesehatan yang lebih mudah dan cepat.

Alwiati juga mengungkapkan bahwa penyusunan DED dan Masterplan RS tersebut diperkirakan akan memakan waktu hingga empat bulan. "Kami berharap hingga akhir tahun ini, seluruh perencanaan dapat diselesaikan. Pembangunan fisik dijadwalkan mulai tahun depan (2025), dan RS yang akan dibangun adalah RS kelas C," jelasnya.

RS kelas C ini nantinya akan menjadi fasilitas kesehatan tingkat dua, yang akan menampung rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama. Lokasi pembangunan RS tersebut berada di Gang Kacang, Kelurahan Lamaru, Balikpapan Timur. Dengan adanya RS baru ini, diharapkan pelayanan kesehatan di Balikpapan Timur akan semakin optimal dan merata.

(Jm/ADV/Diskominfo Balikpapan)

Walikota Balikpapan H Rahmad Mas'ud bersama Istrinya Hj Nurlena Rahmad disela mengikuti upacara perayaan HUT ke 79 RI dengan menggunakan busana pesisir Balikpapan 

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN – Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79, Hj. Nurlena Rahmad tampil dengan busana yang berbeda. Pada upacara yang digelar di Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome, Sabtu (17/8/2024), Hj. Nurlena mengenakan pakaian yang disebutnya Pesisir Balikpapan, yang memiliki kesan mirip dengan busana adat suku Banjar.

Istri Wali Kota Balikpapan ini menjelaskan bahwa busana tersebut merupakan hasil desainnya sendiri yang terinspirasi oleh busana adat Paser Balik, mengingat latar belakangnya sebagai anggota suku Paser. “Busana ini saya sebut Pesisir Balikpapan,” ujar Hj. Nurlena. Sebagai Ketua TP PKK Kota Balikpapan, Hj. Nurlena merencanakan untuk menciptakan busana adat Paser Balik dalam waktu dekat.

Sebelum itu, ia berencana mengumpulkan para pemangku adat dari Tanah Grogot, Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan untuk berdiskusi mengenai makna dan filosofi setiap motif pada busana adat tersebut. Hj. Nurlena menyebutkan bahwa busana Pesisir Balikpapan yang dikenakannya saat ini belum memiliki arti yang spesifik.

Busana tersebut mengusung motif kelubut, yang dikenal sebagai ceplukan di luar Kalimantan Timur, serta memiliki warna dasar kekuningan yang mencerminkan budaya Melayu. “Mahkota busana ini terbuat dari bunga tanjung,” tambahnya. Desain busana Pesisir Balikpapan memakan waktu tiga bulan untuk dirancang dan satu bulan untuk proses pembuatannya. Hj. Nurlena berharap Balikpapan memiliki busana adat yang mencerminkan suku asli daerah tersebut, yaitu Paser Balik.

“Saya ingin Balikpapan juga memiliki busana adat yang sesuai dengan suku asli, Pasir Balik. Insya Allah, akan diluncurkan pada HUT kota tahun depan,” jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, mendukung inisiatif Hj. Nurlena dan menegaskan pentingnya melestarikan budaya suku Paser Balik. “Budaya suku Paser harus diperkenalkan agar tidak hilang seiring waktu. Kita harus menjaga agar budaya kita tidak tergerus oleh globalisasi dan pengaruh budaya luar,” tegas Rahmad Mas’ud.

(*/Jm)