Foto : ArusBawah Energy Forum 2026 di Samarinda, Sabtu (10/10)

SWARAREPUBLIKA.com, SAMARINDA — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ingin perusahaan daerah mendapat kesempatan lebih besar untuk terlibat langsung dalam industri minyak dan gas bumi (migas) serta pertambangan. Keterlibatan tersebut dinilai dapat membuka peluang peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus memperluas manfaat ekonomi sektor energi bagi masyarakat.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menyampaikan dorongan itu saat menghadiri ArusBawah Energy Forum 2026 di Gedung Olah Bebaya, Kalimantan Timur, Sabtu (10/10).

Forum bertema “Menjadi Tuan Rumah di Negeri Energi (Dari Perut Bumi ke PAD)” tersebut membahas peluang dan tantangan pengelolaan sektor energi agar memberikan manfaat lebih besar bagi daerah. Menurut Aulia, forum semacam ini menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan aspirasi terkait pengelolaan potensi migas dan pertambangan. Ia berharap diskusi tersebut dapat dilaksanakan secara rutin sehingga berbagai persoalan yang dihadapi daerah bisa dibahas secara berkelanjutan.

“Forum ini sangat penting bagi Pemkab Kukar untuk menyampaikan pemikiran mengenai optimalisasi pengelolaan migas dan pertambangan. Kita ingin potensi sumber daya energi yang dimiliki daerah dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Aulia menilai, daerah perlu memiliki ruang yang lebih luas untuk mengambil bagian dalam kegiatan industri energi yang berlangsung di wilayahnya. Salah satu langkah yang didorong ialah membuka kesempatan bagi perusahaan daerah agar dapat berpartisipasi langsung dalam kegiatan usaha migas dan pertambangan. Dengan keterlibatan tersebut, perusahaan daerah diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

“Kita ingin daerah diberikan kewenangan melalui perusahaan daerah agar bisa ikut terlibat dalam industri energi. Dengan begitu, pengelolaannya diharapkan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya, baik bagi pemerintah daerah maupun masyarakat Kukar,” katanya.

Meski demikian, Aulia mengakui realisasi gagasan tersebut masih menghadapi tantangan, terutama menyangkut mekanisme bisnis dan regulasi. Kepastian landasan hukum diperlukan agar partisipasi perusahaan daerah dalam industri energi dapat berjalan sesuai ketentuan.

Karena itu, ia berharap adanya dukungan regulasi yang memberi ruang lebih besar bagi pemerintah daerah untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sumber daya energi. Menurutnya, kejelasan kewenangan menjadi salah satu aspek penting dalam upaya mendorong optimalisasi potensi migas dan pertambangan di Kukar.

“Kita berharap kegiatan-kegiatan seperti ini bisa sering kita laksanakan. Ini bisa menjadi corong kita untuk menyampaikan bahwa kita bisa melakukan optimalisasi ketika kita menjadi pelaku utama dari proses pengelolaan energi itu sendiri,” tutupnya.

(ADV/Diskominfo Kukar)

Foto : SPBUN Kota Bangun

SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Sebanyak 221 nelayan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masuk dalam usulan kebutuhan solar bersubsidi sekitar 224 ribu liter per bulan yang diajukan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar. Namun, realisasi penyaluran masih bergantung pada kelengkapan persyaratan administrasi dan kemampuan lembaga penyalur memenuhi kebutuhan di masing-masing wilayah.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Kukar, Ali Rahman, mengatakan nelayan harus terdata dan memenuhi ketentuan yang berlaku sebelum dapat mengakses BBM bersubsidi. Salah satu persyaratan yang diperlukan ialah memiliki Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (KUSUKA). “Untuk mendapatkan BBM bersubsidi, nelayan harus terintegrasi dengan sistem yang digunakan BPH Migas,” kata Ali, Jumat (9/10).

KUSUKA diterbitkan dalam bentuk fisik dan menjadi identitas pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan. Nelayan juga perlu melengkapi pendataan melalui instansi terkait agar dapat mengikuti proses pengajuan solar bersubsidi. Besaran alokasi BBM tidak ditetapkan sama untuk setiap kapal. Perhitungannya mempertimbangkan kapasitas mesin, ukuran kapal berdasarkan *gross tonnage* (GT), serta jumlah mesin yang digunakan.

Ali mencontohkan, kapal berukuran 2 GT dengan mesin berkekuatan 24 tenaga kuda atau *horsepower* (HP) dapat memperoleh alokasi maksimal sekitar 937 liter solar untuk kebutuhan selama dua bulan. “Tidak bisa disamakan semua kapal. Ada yang menggunakan mesin 24 HP, 26 HP, 30 HP, bahkan ada yang menggunakan dua mesin. Kebutuhannya tentu berbeda,” jelasnya.

Selain persyaratan nelayan, kemampuan lembaga penyalur juga menjadi pertimbangan dalam merealisasikan usulan kuota tersebut. DKP Kukar telah mengajukan kebutuhan sekitar 224 ribu liter per bulan, tetapi kepastian penyalurannya masih menunggu penyesuaian dengan kapasitas SPBU atau lembaga penyalur terkait.

Dalam pembahasan yang telah dilakukan, kapasitas penyaluran di salah satu lokasi masih berkisar 40 hingga 50 kiloliter. Kondisi ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan agar distribusi BBM dapat disesuaikan dengan kebutuhan nelayan. Perluasan akses solar bersubsidi juga menjadi perhatian di kawasan pesisir, termasuk Kecamatan Muara Badak dan Marangkayu.

Ketersediaan BBM dengan harga subsidi diharapkan dapat membantu nelayan menekan biaya operasional saat melaut. Dengan biaya operasional yang lebih terkendali, kegiatan penangkapan ikan diharapkan dapat berjalan lebih efisien dan mendukung pendapatan masyarakat pesisir.

(ADV/Diskominfo Kukar)

Foto : Kepala Disperkim Kukar, Muhammad Aidil.

SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah di Kelurahan Melayu, Tenggarong, menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk membenahi kawasan permukiman padat. Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kukar menyiapkan penataan ulang yang mencakup penanganan rumah terdampak, perbaikan akses jalan, hingga penyediaan prasarana pendukung untuk mengurangi risiko kebakaran.

Kepala Disperkim Kukar, Muhammad Aidil, mengatakan kawasan tersebut merupakan permukiman lama yang tumbuh selama puluhan tahun. Perkembangan bangunan secara bertahap membuat tata letak rumah dan akses jalan lingkungan belum sepenuhnya tertata. “Kami akan melakukan penataan ulang karena jumlah rumah di kawasan ini cukup banyak dan lokasinya juga cukup luas,” ujar Aidil.

Sebagai langkah awal, Disperkim akan menyelesaikan perencanaan dan mendata warga yang terdampak kebakaran. Penanganan rumah yang mengalami kerusakan menjadi prioritas sebelum pembenahan kawasan dilakukan secara menyeluruh. Rencana penataan kemudian akan dipaparkan kepada masyarakat dan pihak kelurahan untuk mendapatkan masukan.

Dalam pelaksanaannya, Disperkim juga berkoordinasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) serta membuka peluang dukungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Selain kondisi rumah, keterbatasan akses jalan menjadi persoalan yang turut dievaluasi.

Sejumlah ruas di kawasan tersebut tidak dapat dilalui kendaraan berukuran besar, sehingga berpotensi menghambat mobilitas, terutama ketika petugas harus menangani keadaan darurat. Jika pelebaran jalan dinilai diperlukan, pemerintah akan membahas rencana tersebut bersama pihak kelurahan, kecamatan, warga, dan pemilik lahan yang kemungkinan terdampak.

Langkah ini diperlukan agar penataan dapat mempertimbangkan kondisi lingkungan sekaligus kepentingan masyarakat setempat. Penyediaan hidran juga masuk dalam rencana pembenahan. Disperkim akan berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran untuk menentukan titik pemasangan, baik di kawasan bekas kebakaran maupun di permukiman padat lainnya.

“Harapannya, keberadaan hidran dapat membantu mengurangi korban maupun luasan dampak apabila terjadi kebakaran di kemudian hari,” jelasnya.

Aidil menegaskan, penataan kawasan tidak akan dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan kebutuhan warga. Perencanaan tersebut diharapkan dapat memperbaiki kualitas lingkungan permukiman sekaligus mendukung penanganan kebakaran apabila kejadian serupa kembali terjadi. 

(ADV/Diskominfo Kukar)

Foto : Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono.

SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Keterbatasan jaringan pipa air menjadi kendala pemasangan hidran di kawasan padat penduduk RT 33, Kelurahan Melayu, Tenggarong. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) kini mengkaji alternatif penyediaan sumber air, termasuk kemungkinan membangun tempat penampungan yang bisa digunakan saat kebakaran.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, menjelaskan jaringan pipa yang melayani kebutuhan air warga di kawasan tersebut hanya berdiameter 2,5 inci. Kapasitas itu dinilai belum memadai untuk mendukung kebutuhan hidran pemadam kebakaran. “Di lokasi ini, kapasitas pipa yang memberikan pelayanan air kepada warga tidak memungkinkan untuk dipasang hidran di jalan tersebut, karena pipanya hanya 2,5 inci,” kata Sunggono.

Menurutnya, jaringan hidran membutuhkan pipa berukuran sekitar 4 hingga 6 inci agar pasokan air dapat mendukung penanganan kebakaran. Karena kondisi jaringan yang ada belum memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah perlu mempertimbangkan pilihan lain dengan memperhatikan karakteristik kawasan dan ketersediaan lahan.

Salah satu opsi yang tengah dikaji ialah membeli lahan milik masyarakat untuk dijadikan tempat penampungan air. Persediaan air di lokasi itu nantinya dapat dimanfaatkan petugas ketika terjadi keadaan darurat. “Tidak mustahil, misalnya nanti di antara lahan masyarakat itu kita beli untuk tempat penampungan air. Ketika ada kebakaran, air tersebut bisa diambil,” ujarnya.

Selain mencari sumber air alternatif, Pemkab Kukar akan memetakan lokasi yang memungkinkan untuk pemasangan hidran. Kajian tersebut akan mempertimbangkan kapasitas jaringan pipa, kondisi jalan, dan akses bagi petugas pemadam kebakaran.

Sunggono menekankan bahwa penyediaan hidran harus disertai perencanaan pemeliharaan yang jelas. Fasilitas tersebut perlu dijaga agar tetap berfungsi saat dibutuhkan, sehingga mekanisme perawatan dan pihak yang bertanggung jawab juga akan menjadi bagian dari pembahasan kebijakan. “Memang salah satu tantangannya adalah hidran itu harus dipelihara. Cara memelihara dan siapa yang memelihara, nanti yang akan diformulasikan juga kebijakannya,” katanya.

Evaluasi tidak hanya dilakukan di RT 33, Kelurahan Melayu. Pemkab Kukar juga berencana menginventarisasi kawasan permukiman lain yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi sebagai dasar penyusunan kebutuhan sarana pendukung. Pendataan akan memprioritaskan lingkungan dengan rumah yang berdekatan dan akses jalan terbatas, terutama kawasan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam kebakaran.

Hasilnya diharapkan membantu pemerintah menentukan lokasi serta jenis infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung penanganan kebakaran.

(ADV/Diskominfo Kukar)

Foto : Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat meninjau lokasi pascakebakaran di RT 33, Kelurahan Melayu, Tenggarong.

SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Keterbatasan akses jalan dan sumber air di permukiman padat menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) setelah kebakaran melanda RT 33, Kelurahan Melayu, Tenggarong. Pemerintah daerah akan memetakan kebutuhan infrastruktur di setiap wilayah untuk mendukung penanganan kebakaran dan mengevaluasi kesiapan kawasan menghadapi keadaan darurat.

Pemetaan tersebut meliputi kondisi jalan, ketersediaan sumber air, serta kebutuhan hidran. Hasil evaluasi akan menjadi pertimbangan dalam menentukan penanganan sesuai persoalan dan karakteristik masing-masing wilayah. Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengatakan kebutuhan infrastruktur setiap rukun tetangga (RT) berbeda sehingga tidak dapat ditangani dengan pendekatan yang sama.

“Kita akan lihat kebutuhan masing-masing RT karena tidak semuanya sama,” kata Aulia saat meninjau lokasi kebakaran, Kamis (8/10).

Ia menjelaskan, jalan yang sempit di kawasan permukiman padat dapat menyulitkan kendaraan pemadam kebakaran mencapai titik api. Kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi, termasuk memastikan ketersediaan sumber air bagi petugas ketika menangani kebakaran di lokasi yang sulit dijangkau armada. Pemkab Kukar juga akan mengkaji kemungkinan pemanfaatan dana RT untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur tertentu.

Skema tersebut dipertimbangkan apabila penanganan persoalan memungkinkan dilakukan melalui pembiayaan di tingkat RT. “Kalau bisa ditangani dengan dana RT, kita akan coba optimalkan pembiayaan melalui dana RT untuk mengatasi permasalahan tersebut,” ujarnya.

Di tengah evaluasi jangka panjang, pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak tetap menjadi perhatian pemerintah. Aulia meminta pemerintah kecamatan dan Kelurahan Melayu mendata kebutuhan masyarakat, khususnya perlengkapan sekolah bagi anak-anak serta barang yang menunjang aktivitas warga yang bekerja.

“Jangka pendek itu, kita memastikan aktivitas sehari-hari masyarakat tidak terganggu. Bagi yang bersekolah, perlengkapan sekolahnya harus terpenuhi. Bagi yang bekerja, kebutuhan pekerjaannya juga harus terpenuhi,” jelasnya.

Bantuan bagi warga terdampak turut disalurkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dalam bentuk peralatan memasak. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan warga dan relawan di lokasi pengungsian.

Aulia juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), para relawan, serta jajaran pemerintah kecamatan dan kelurahan yang terlibat dalam penanganan pascakebakaran, termasuk penyelenggaraan dapur umum.

Selain kebutuhan fisik, Pemkab Kukar turut memperhatikan kondisi psikologis warga setelah mengalami musibah. Pemantauan akan dilakukan bersama unsur pemerintah dan komunitas agar warga yang mengalami tekanan pascakebakaran dapat memperoleh pendampingan.

Melalui evaluasi infrastruktur dan pemenuhan kebutuhan warga, Pemkab Kukar berupaya memastikan proses pemulihan berjalan seiring dengan upaya memperbaiki kesiapan permukiman dalam menghadapi risiko kebakaran di kemudian hari.

(ADV/Diskominfo Kukar)

Open Mic Stand Up Indo Tenggarong, Rabu (07/10) malam

SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Pelajar dan mahasiswa menjadi sasaran program pengembangan ekonomi kreatif yang disiapkan Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar) untuk 2027. Melalui Ekraf Goes to School, generasi muda akan diperkenalkan pada berbagai subsektor kreatif, mulai dari film dan fotografi hingga musik dan komedi, sekaligus diberi ruang untuk mengembangkan bakat.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan program tersebut dirancang untuk membuka peluang tumbuhnya talenta baru. Pengenalan sejak usia sekolah dan perguruan tinggi diharapkan membantu peserta menemukan minat serta mengasah kemampuan di bidang yang mereka tekuni.

Selain menyasar generasi muda, Dispar Kukar juga menyiapkan pendampingan bagi komunitas ekonomi kreatif yang sudah aktif berkegiatan. Salah satunya komunitas Stand Up Comedy Tenggarong, yang selama ini menjalankan aktivitas secara mandiri meski belum mendapat dukungan anggaran dari APBD. Zikri mengapresiasi upaya komunitas tersebut dalam mempertahankan kegiatan dan mengembangkan anggotanya. Pemerintah daerah, menurut dia, tengah menyiapkan sejumlah skema pendampingan untuk mendukung perkembangan komunitas.

“Mereka mau tumbuh dan berkembang secara mandiri, dan itu tentu mendapat apresiasi dari kami. Ke depan, kami akan menyiapkan beberapa skema pendampingan,” ujar Zikri.

Untuk komunitas stand-up comedy, salah satu rencana yang disiapkan adalah menghadirkan mentor dari komunitas Stand Up Samarinda. Pendampingan ini diharapkan membantu para komika mengembangkan materi sekaligus meningkatkan kualitas penampilan saat berhadapan dengan penonton. Zikri menilai kemampuan komika tidak cukup dibangun hanya dengan kesempatan tampil di atas panggung.

Penguatan materi juga diperlukan agar penampilan mereka semakin matang dan dapat menjangkau khalayak yang lebih luas. Di sisi komunitas, Ketua Stand Up Comedy Tenggarong, Muhammad Zakaria Al Fazri, menyebut latihan rutin dan panggung terbuka menjadi bagian penting dalam mengembangkan kemampuan anggota.

Kegiatan open mic digelar setiap Rabu malam mulai pukul 19.30 WITA dan terbuka bagi masyarakat yang ingin belajar berbicara di depan umum maupun menekuni komedi. “Dalam tiga bulan terakhir ada sekitar 14 orang yang terdaftar, dan progresnya sangat baik. Komika baru yang bergabung bahkan sudah mampu membawakan materi durasi lima menit yang menghibur,” kata Zakaria.

Menurutnya, latihan yang konsisten membantu anggota membangun kepercayaan diri sekaligus mengasah kemampuan menyampaikan materi di hadapan publik. Panggung terbuka juga menjadi kesempatan bagi komika baru untuk menguji materi dan mendapatkan pengalaman tampil. Zakaria berharap dukungan pemerintah daerah dapat memperluas perkembangan stand-up comedy di Kukar.

Ia juga menginginkan komunitas serupa tumbuh di kecamatan lain agar kesempatan berkarya tidak hanya terpusat di Tenggarong. Melalui pengenalan ekonomi kreatif di lingkungan pendidikan dan pendampingan komunitas, Dispar Kukar berupaya membuka jalur regenerasi pelaku kreatif.

Program tersebut diharapkan dapat memperkuat kegiatan komunitas yang sudah berjalan sekaligus memberi kesempatan bagi talenta baru untuk berkembang di berbagai subsektor ekonomi kreatif.

(ADV)

Foto : Penyerahan berkas batas tujuh desa persiapan kepada DPMD Kukar, Kamis (8/10)

SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Delapan usulan pembentukan desa baru di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih berproses, dengan tujuh desa persiapan kini melengkapi persyaratan untuk melanjutkan pengajuan ke pemerintah provinsi. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar menerima dokumen batas wilayah dari Bagian Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah Kukar pada Kamis (8/10).

Dokumen tersebut berupa berita acara batas antara desa induk dan desa persiapan. Kelengkapan ini menjadi salah satu persyaratan yang harus dipenuhi sebelum usulan pemekaran kembali diajukan untuk menjalani verifikasi di tingkat provinsi. Kepala Bidang Penataan Desa DPMD Kukar, Ahmad Irji’i, mengatakan dokumen yang telah diterima akan diproses untuk melengkapi berkas pengajuan.

“Berita acara batas ini salah satu dokumen yang memang harus dilengkapi. Setelah kami terima, selanjutnya kami proses untuk memenuhi berkas pengajuan yang akan disampaikan ke provinsi,” ujarnya.

Tujuh desa persiapan yang diusulkan menjadi desa definitif meliputi Desa Badak Makmur, hasil pemekaran Desa Muara Badak Ulu; Desa Sumber Rejo, hasil pemekaran Desa Bangun Rejo; serta Desa Loa Duri Seberang, hasil pemekaran Desa Loa Duri Ulu. Berikutnya, Desa Sungai Payang Ilir merupakan hasil pemekaran Desa Sungai Payang, Desa Jembayan Ilir dari Desa Jembayan, Desa Kembang Janggut Ulu dari Desa Kembang Janggut, serta Desa Tanjung Berukang dari Desa Sepatin.

Di luar tujuh desa persiapan tersebut, Pemkab Kukar juga memproses usulan Desa Mangkurawang Darat. Usulan ini berasal dari perubahan status sebagian wilayah Kelurahan Mangkurawang di Kecamatan Tenggarong. Dengan demikian, total ada delapan usulan desa baru yang tengah ditangani Pemkab Kukar. Tujuh di antaranya merupakan peningkatan status desa persiapan menjadi desa definitif, sedangkan satu lainnya berasal dari perubahan status sebagian wilayah kelurahan menjadi desa.

Sebelum memasuki tahap pemberkasan lanjutan, tujuh desa persiapan telah menjalani sejumlah proses, mulai dari pembentukan, kajian, seminar hasil hingga verifikasi lapangan. DPMD Kukar juga berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait untuk memastikan data dan persyaratan setiap wilayah sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Setelah berkas dinyatakan siap, DPMD Kukar akan menyampaikannya kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk diverifikasi. Apabila persyaratan dinyatakan lengkap, usulan tersebut akan diteruskan kepada Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa. Ahmad menegaskan, kejelasan batas wilayah menjadi bagian penting dalam proses pemekaran.

Penetapan batas harus memperhatikan wilayah administrasi desa persiapan maupun desa-desa yang berbatasan dengannya. “Jadi bukan hanya soal administrasi di atas kertas, tetapi batas wilayah ini harus jelas dan disepakati oleh pihak-pihak yang berbatasan. Itu yang kemudian menjadi dasar dalam proses pemberkasan berikutnya,” jelasnya.

Penyempurnaan dokumen tersebut merupakan tindak lanjut atas catatan verifikasi sebelumnya. DPMD Kukar masih memastikan setiap kekurangan administrasi telah ditangani sebelum berkas kembali diajukan ke pemerintah provinsi dan pusat. DPMD Kukar sebelumnya menargetkan pemekaran tujuh desa tersebut dapat diselesaikan pada 2026.

Proses ini juga berkaitan dengan masa berlaku desa persiapan dan rencana pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak pada 2027. Jika seluruh persyaratan terpenuhi, tahapan selanjutnya dapat mencakup pemaparan usulan kepada pemerintah pusat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Pemkab Kukar akan mendampingi proses tersebut, termasuk menjelaskan kesiapan wilayah yang diusulkan.

Selain pemeriksaan dokumen, verifikasi lapangan diperlukan untuk mencocokkan persyaratan administratif dengan kondisi faktual. Aspek yang diperhatikan mencakup batas wilayah, kondisi geografis, sarana dan prasarana, akses pelayanan, serta kebutuhan masyarakat.

Menurut Ahmad, tujuan akhir pemekaran adalah menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat dan mendorong pembangunan sesuai karakteristik masing-masing wilayah. Karena itu, setiap tahapan harus dilalui sesuai ketentuan agar desa yang ditetapkan nantinya memiliki kesiapan dalam menjalankan pemerintahan.

“Harapannya seluruh proses ini bisa berjalan lancar sampai ke tahap penetapan. Ketika nanti sudah menjadi desa definitif, yang paling utama adalah bagaimana pemerintahan desanya siap dan masyarakat benar-benar mendapatkan pelayanan yang lebih dekat,” pungkasnya.

(ADV/Diskominfo Kukar)

Foto : Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kukar, Muhammad Taufik

SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Pengembangan ji perkebunan di Kutai Kartanegara (Kukar) mulai diarahkan pada penguatan rantai usaha dari hulu hingga hilir. Pemerintah daerah tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga menyiapkan pengolahan dan pemasaran agar hasil perkebunan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kukar, Muhammad Taufik, mengatakan terdapat tujuh komoditas perkebunan yang menjadi fokus pengembangan pemerintah daerah. Pemilihan komoditas tersebut nantinya disesuaikan dengan potensi serta karakteristik lahan di masing-masing wilayah. “Beberapa komoditas yang menjadi fokus pengembangan di antaranya perkebunan rakyat kelapa sawit, kopi, cokelat atau kakao, kelapa dalam, lada, serta sejumlah komoditas perkebunan lainnya,” kata Taufik.

Menurutnya, perkebunan rakyat memiliki posisi penting dalam mendukung perekonomian masyarakat. Karena itu, pengembangannya perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produksi hingga penguatan produk setelah panen. “Yang menjadi fokus kita adalah bagaimana komoditas perkebunan ini bisa berkembang dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Tidak hanya dari sisi produksi, tapi juga bagaimana hasil perkebunan bisa diolah sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” ujarnya.

Untuk mencapai hal tersebut, Disbun Kukar menyiapkan sejumlah pendekatan, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani. Pembinaan dan pendampingan akan terus diberikan, disertai dukungan sarana produksi serta penguatan kelembagaan kelompok tani.

Taufik menambahkan, pengembangan komoditas tidak dapat dilakukan dengan pola yang sama di seluruh wilayah. Kondisi lahan dan karakteristik masing-masing kecamatan menjadi pertimbangan dalam menentukan komoditas yang paling sesuai untuk dikembangkan. Penguatan sektor hilir juga menjadi perhatian.

Disbun Kukar mendorong agar hasil perkebunan secara bertahap tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi petani dalam rantai usaha sekaligus membuka peluang ekonomi baru di tingkat masyarakat.

Dengan begitu, manfaat pengembangan perkebunan tidak hanya terlihat dari peningkatan produksi, tetapi juga dari bertambahnya nilai yang diterima petani. “Dengan pengembangan tujuh komoditas tersebut, sektor perkebunan diharapkan mampu menjadi salah satu penopang ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kukar, khususnya para petani perkebunan rakyat,” jelasnya.

Dukungan terhadap arah pengembangan tersebut juga datang dari Kecamatan Tenggarong Seberang. Camat Tenggarong Seberang, Sukono, menilai wilayahnya memiliki potensi perkebunan yang cukup besar untuk terus dikembangkan. “Potensi perkebunan di masyarakat cukup besar. Tinggal bagaimana pemerintah memberikan pendampingan dan membantu petani, agar hasil produksinya semakin baik dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” kata Sukono.

Menurut Sukono, keberlanjutan program menjadi hal penting agar potensi perkebunan benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat. Selain produksi, petani juga perlu mendapatkan dukungan dalam mengakses pasar sehingga hasil usaha yang diperoleh dapat lebih optimal. “Kami mendorong masyarakat memanfaatkan potensi lahan yang tersedia, dengan memilih komoditas yang sesuai kondisi wilayah. Dengan dukungan pemerintah, pengembangan perkebunan diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Dengan fokus pada komoditas potensial dan penguatan dari produksi hingga pemasaran, pengembangan perkebunan Kukar diharapkan semakin mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di berbagai wilayah.

(ADV/Diskominfo Kukar)

Foto : Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kukar, Muhammad Taufik.

 

SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Persiapan Kutai Kartanegara (Kukar) menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PORNAS) Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) terus dimatangkan. Sebanyak 12 cabang olahraga (cabor) telah disiapkan, sementara kerangka tim mulai memasuki tahapan latihan sebagai bagian dari persiapan menuju kompetisi.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kukar, Aji Ali Husni, mengatakan penyusunan kerangka tim untuk 12 cabor telah dirampungkan setelah melalui pembahasan selama dua hari. Tahapan tersebut menjadi dasar sebelum seluruh kontingen menjalani Training Center (TC). “Alhamdulillah, selama dua hari ini kami sudah selesai menyusun kerangka tim.

Ada 12 cabang olahraga yang kami siapkan dan semuanya sudah dipersiapkan,” kata Aji Ali Husni saat dihubungi, Rabu (7/10). Sejalan dengan penyusunan tim, sejumlah cabor mulai mempersiapkan jadwal latihan. Penyesuaian dilakukan karena sebagian peserta juga mengikuti kelas eksekutif yang diperuntukkan bagi pejabat pemerintahan.

Kondisi tersebut membuat jadwal latihan perlu diselaraskan dengan aktivitas kedinasan kepala organisasi perangkat daerah (OPD), kepala bidang hingga sekretaris. Koordinasi terus dilakukan agar agenda latihan tetap berjalan tanpa mengganggu tugas pemerintahan.

“Di beberapa cabang olahraga memang terdapat kelas eksekutif, seperti kelas tertentu yang diperuntukkan bagi pejabat. Karena itu, kami terus melakukan koordinasi, mengingat kepala OPD, kepala bidang, hingga sekretaris juga memiliki kesibukan masing-masing,” ujarnya.

Beberapa cabor bahkan telah mulai menyusun agenda latihan masing-masing. Seluruh tahapan tersebut dipersiapkan untuk memastikan kesiapan atlet sebelum memasuki persaingan PORNAS Korpri. Tahapan TC juga mulai dijalankan. Latihan perdana kontingen Kukar dijadwalkan berlangsung di lapangan pickleball Pendopo Kantor Bupati Kukar. Bupati Kukar bersama jajaran kepala OPD turut dijadwalkan hadir dalam latihan tersebut.

Dukungan pimpinan daerah diharapkan semakin memberikan motivasi kepada para peserta sekaligus memperkuat semangat kontingen dalam menjalani persiapan. “Kami berupaya menyesuaikan tim dengan jadwal latihan yang nantinya kami susun. Alhamdulillah, tim PORNAS Korpri sudah memulai latihan pertama sebagai bagian dari persiapan TC,” jelas Aji Ali.

Aji menegaskan, persiapan tahun ini diarahkan untuk meningkatkan capaian Kukar pada penyelenggaraan sebelumnya. Setelah berhasil menempati posisi runner-up, kontingen Kukar kini membawa target untuk meraih hasil terbaik pada PORNAS Korpri mendatang. “Targetnya tentu juara. Pada pelaksanaan sebelumnya kami berada di peringkat kedua. Tahun ini mudah-mudahan dengan persiapan yang cukup, kami bisa meningkatkan hasil tersebut,” tegasnya.

Dengan 12 cabor yang telah disiapkan dan tahapan latihan yang mulai berjalan, Kukar kini fokus memastikan seluruh kontingen berada dalam kondisi siap menghadapi pertandingan. Persiapan juga terus dikoordinasikan mengingat sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur turut mempersiapkan kontingen masing-masing.

(ADV/Diskominfo Kukar)

Foto : Dapur Umum untuk Korban Kebakaran di Jalan Danau Aji.

SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Respons cepat dilakukan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk membantu warga yang terdampak kebakaran di Jalan Danau Aji, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong. Dinas Sosial (Dinsos) Kukar bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung menyiapkan dukungan kebutuhan dasar bagi masyarakat setelah musibah terjadi.

Kebakaran yang berlangsung pada Senin (5/10) sore tersebut menyebabkan sejumlah rumah terdampak dan sebagian warga harus mengungsi. Sejak malam hari, dapur umum mulai dioperasikan sebagai bentuk pelayanan awal untuk memastikan kebutuhan makanan warga tetap terpenuhi.

Kepala Dinsos Kukar, Rinda Desianti, mengatakan pihaknya terus melakukan pendataan bersama pemerintah kecamatan dan kelurahan. Pendataan tersebut dilakukan secara rinci agar bantuan yang diberikan nantinya dapat menyesuaikan kebutuhan setiap keluarga. “Untuk sementara ini dapur umum sudah kita buka,” kata Rinda, Rabu (7/10).

Menurutnya, selain makanan, Dinsos Kukar telah menyiapkan sejumlah bantuan sosial untuk mendukung kebutuhan warga selama masa pemulihan. Bantuan tersebut akan disalurkan setelah data penerima dan kebutuhan masing-masing keluarga diterima secara lengkap. Rinda menjelaskan bantuan yang disiapkan cukup beragam.

Mulai dari sembako, perlengkapan bayi seperti popok dan peralatan mandi, pakaian bagi warga lanjut usia, hingga seragam sekolah untuk anak-anak yang terdampak kebakaran. “Data yang ada ini selalu data sementara. Kami ingin data yang detail,” ujarnya. Dengan pendataan tersebut, bantuan diharapkan tidak hanya diberikan berdasarkan jumlah korban, tetapi benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.

Dinsos Kukar juga akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur untuk memperkuat dukungan bagi warga terdampak. Rinda meminta pemerintah kecamatan dan kelurahan segera melengkapi data warga sekaligus surat permohonan bantuan. Kelengkapan administrasi tersebut menjadi bagian penting agar bantuan dapat segera didistribusikan kepada masyarakat.

“Bantuan itu sudah harus distribusi, supaya masyarakat cepat merasakan bantuan,” jelas Rinda.

Sementara itu, Dinsos Kukar masih mengevaluasi keberlanjutan operasional dapur umum. Evaluasi mempertimbangkan kondisi warga di lokasi pengungsian, termasuk sebagian korban yang sementara memilih tinggal di rumah keluarga sehingga kebutuhan makanan dari dapur umum mulai berkurang.

“Dapur umum sampai dievaluasi, apakah harus sampai tujuh hari atau cukup sampai besok,” tutup Rinda.

(ADV/Diskominfo Kukar)