Mei Nindra Lestari. A.Md. Gz, Ahli Gizi Puskesmas Manggar Baru Balikpapan timur 

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Puskesmas Manggar Baru melaksanakan kegiatan edukasi pencegahan anemia pada ibu hamil yang dipadukan dengan praktik memasak pangan lokal bergizi pada Kamis (20/11/2025) di ruang rapat puskesmas. Kegiatan ini merupakan bagian dari inovasi Gambar Anting (Gerakan Manggar Baru Atasi Stunting), program dari unit gizi untuk menurunkan risiko stunting sejak masa kehamilan.

Ahli Gizi Puskesmas Manggar Baru, Mei Nindra Lestari, A.Md.Gz, menjelaskan bahwa anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah yang dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat rendah. Kondisi tersebut dapat berujung pada stunting bila tidak dicegah sejak dini.

Menurut Nindra, inovasi Gambar Anting berfokus pada tiga langkah utama: edukasi gizi, pemantauan konsumsi tablet tambah darah (TTD), dan pemberdayaan ibu hamil dalam memanfaatkan pangan lokal bergizi. “Kami tidak hanya memberi edukasi, tetapi juga memastikan ibu hamil tahu cara minum TTD yang benar dan memahami pola makan yang sesuai,” ujarnya.

Nindra menambahkan bahwa masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa minum TTD saja sudah cukup. Padahal, pencegahan anemia harus dibarengi dengan konsumsi makanan kaya zat besi, vitamin, dan mineral. Kekurangan konsumsi sayur dan protein masih menjadi penyebab anemia yang sering ditemukan di lapangan.

Untuk memberikan contoh langsung, kegiatan ini juga menghadirkan demo memasak pangan lokal. Menu yang dibuat adalah nugget tempe daun kelor, diperkaya telur dan daging sebagai sumber protein hewani. Daun kelor dipilih karena kaya zat besi dan mudah ditemukan. Menu ini juga dapat dimodifikasi dengan bahan lain seperti bayam atau daun katuk sesuai ketersediaan.

“Kami ingin ibu-ibu bisa membuat makanan bergizi dengan bahan yang mudah didapat dan tetap ramah di kantong. Menu ini juga dapat dibuat dalam jumlah cukup untuk konsumsi keluarga,” jelas Nindra.

Ia berharap inovasi Gambar Anting dapat mendorong ibu hamil lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan gizinya, sehingga risiko anemia menurun dan upaya pencegahan stunting dapat dimulai sejak dini. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi yang diharapkan dapat memperkuat pemahaman ibu hamil dalam menjaga kesehatan diri dan janin melalui pola makan sehat serta konsumsi TTD yang tepat.

(ADV/Puskesmas)

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Puskesmas Gunung Bahagia kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan kesehatan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui inovasi unggulan Berkat Asri Mantap.

Program yang telah konsisten dijalankan sejak 2023 itu kini mewakili Kota Balikpapan dalam ajang penilaian inovasi tingkat Provinsi Kalimantan Timur 2025, yang dijadwalkan dipresentasikan pada Kamis (20/11/2025).

Didukung penuh oleh Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, pelaksana inovasi, Katrin Pasaribu, memastikan seluruh persiapan berjalan lancar. Ia menyebut bahwa tidak ada kendala berarti dalam menuju tahapan presentasi provinsi, mengingat program ini sudah lama diterapkan dan memiliki rekam jejak kuat.

“Tidak ada persiapan yang terlalu berat karena inovasi ini memang sudah berjalan sejak 2023. Kami hanya tinggal menyampaikan apa saja yang telah dilakukan selama ini,” ungkap Katrin.

Ia menambahkan bahwa sesi tanya jawab juga telah dipersiapkan dengan matang. “Kami siap menjawab bersama-sama,” tegasnya. Program Berkat Asri Mantap merupakan singkatan dari Pemberdayaan Masyarakat dalam Asuhan Mandiri, Pemanfaatan TOGA (Tanaman Obat Keluarga), dan Akupresur.

Sasaran utamanya adalah warga serta kader kesehatan di Kelurahan Sungai Nangka dan Gunung Bahagia. Namun berkat digitalisasi, jangkauan inovasi ini kini lebih luas. “Kami menyediakan tautan berisi informasi lengkap, mulai dari ramuan TOGA untuk keluhan umum seperti batuk dan pilek, hingga panduan titik akupresur. Masyarakat bisa mengaksesnya kapan saja dan dari mana saja,” jelas Katrin.

Transformasi digital ini memungkinkan masyarakat mendapatkan kemudahan tanpa menunggu kehadiran fasilitator, sekaligus mendorong kemandirian keluarga dalam menjaga kesehatan. Inovasi ini bukan pendatang baru dalam kompetisi. Sebelumnya, Berkat Asri Mantap berhasil masuk nominasi di sejumlah ajang bergengsi, seperti KIPP KemenPAN-RB, IGA Awards Kemendagri, hingga kompetisi Pepes Ikan Peda Provinsi Kalimantan Timur.

Katrin menyebutkan bahwa keikutsertaan di tingkat provinsi bukan sekadar upaya bersaing, tetapi untuk memperluas manfaat program. “Kami berharap mendapatkan hasil terbaik sekaligus membawa nama baik Dinas Kesehatan Kota Balikpapan. Yang terpenting, inovasi ini bisa bermanfaat lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, turut memberikan apresiasi. Ia menilai inovasi yang lahir dari Puskesmas Gunung Bahagia sejalan dengan arah kebijakan kesehatan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023.

“Kami sangat mendukung inovasi yang dikembangkan Puskesmas Gunung Bahagia. Ibu Katrin sudah luar biasa melibatkan masyarakat melalui pemberdayaan pengobatan tradisional dan akupresur,” ucap Alwiati saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (19/11/2025).

Alwiati menegaskan bahwa inovasi ini termasuk dalam 23 upaya kesehatan yang diamanatkan undang-undang. “Katrin sudah menggerakkan kader, memberikan edukasi tentang obat tradisional, TOGA, serta akupresur. Ini penting karena masyarakat bisa sehat melalui cara-cara mandiri yang aman dan berbasis pengetahuan,” jelasnya.

Ia juga berharap inovasi ini dapat direplikasi oleh puskesmas lain. “Ilmu dan inovasi seperti ini harus ditularkan. Puskesmas lain juga sangat kami dorong untuk menciptakan inovasi baru seperti yang dilakukan Gunung Bahagia,” tambahnya.

Dengan rekam jejak prestasi, termasuk keberhasilan meraih IGA Award dari Kementerian Dalam Negeri, Alwiati optimistis Balikpapan berpeluang besar menjadi pemenang di tingkat provinsi. “Inovasi ini sudah berkelas nasional,” pungkasnya.

(ADV/*)

Poli gigi Puskesmas Balikpapan timur Drg Nimas

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Poli Gigi Puskesmas Balikpapan Timur terus mencatat kunjungan pasien yang cukup konsisten dalam beberapa bulan terakhir. Keluhan yang datang pun masih didominasi oleh kasus-kasus umum seperti gigi berlubang, gigi impaksi, pembengkakan gusi, serta penumpukan karang gigi.

Hal ini disampaikan dokter gigi Puskesmas Balikpapan Timur, drg. Nimas, dalam wawancara pada Kamis (20/11/2025). Menurut drg. Nimas, pola keluhan pasien tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. “Kasus yang sering datang tetap sama seperti sebelumnya, mulai dari gigi berlubang, gigi bungsu impaksi, hingga pembengkakan gusi dan plak gigi,” jelasnya.

Kesadaran Masyarakat Masih Menjadi Tantangan Meski pelayanan berjalan dengan baik, drg. Nimas menyoroti tantangan yang masih terus dihadapi, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan rutin. Kebanyakan pasien datang hanya ketika keluhan sudah terasa parah. “Jika tidak sakit, mereka biasanya tidak datang. Masih banyak yang belum menyadari pentingnya kontrol enam bulan sekali,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa sebagian masyarakat sudah mulai memiliki kesadaran dan rutin melakukan pemeriksaan. Penanganan Kasus Anak dan Mekanisme Rujukan Pada penanganan pasien anak, Poli Gigi melakukan pemeriksaan awal untuk melihat tingkat keparahan kerusakan gigi. Jika masih tergolong ringan, tindakan seperti penambalan akan dilakukan langsung di puskesmas.

Namun untuk kasus lubang gigi yang sudah berat, pasien akan dirujuk ke rumah sakit agar mendapat perawatan lebih lengkap. “Untuk gigi goyang pada anak, pasti kami tangani di sini dan tidak perlu dirujuk. Tapi kalau lubang sudah dalam dan alat kami tidak mampu menangani, barulah kami rujuk,” ujar drg. Nimas.

Program Penyuluhan dan Pemeriksaan Sekolah Selain pelayanan di poli, Puskesmas Balikpapan Timur juga rutin menjalankan program penyuluhan di sekolah sebagai bentuk upaya pencegahan. Kegiatan edukasi dilakukan satu kali setahun di PAUD dan TK, termasuk sikat gigi massal. Di tingkat SD, edukasi melalui pembinaan dokter kecil juga digelar bersamaan dengan pemeriksaan rutin.

Saat ini juga berjalan program pemerintah CKG (Cek Kesehatan Gigi) yang mencakup pemeriksaan gigi anak sekolah. “Kalau ditemukan gigi yang bermasalah dan harus segera ditangani, kami sarankan untuk datang ke puskesmas untuk dilakukan tindakan pada gigi tersebut . Kami juga melakukan pengolesan varnish fluoride untuk mencegah gigi berlubang,” terangnya.

Kebutuhan Fasilitas dan Harapan Terkait fasilitas, drg. Nimas menyampaikan bahwa SDM di poli sudah mencukupi. Namun ia menilai beberapa peralatan pendukung masih perlu ditambahkan agar pelayanan semakin optimal. “Tenaganya sudah cukup, hanya fasilitas tertentu memang akan lebih baik jika bisa ditambah,” katanya.

Sebagai penutup, drg. Nimas berharap masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut. Ia menekankan pentingnya menjaga pola kontrol rutin agar kerusakan gigi dapat dicegah sejak dini. “Harapan kami, masyarakat bisa melakukan kontrol setiap enam bulan, bukan hanya datang ketika sakit.

Pembersihan karang gigi juga sebaiknya dilakukan dua kali setahun untuk mengontrol kebersihan gigi dan mencegah kerusakan gigi berlanjut,” tutupnya.

(ADV/Puskesmas)

SWARAREPUBLIKA.com, JAKARTA — Direktorat Jenderal Imigrasi di bawah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan resmi meluncurkan Global Citizenship of Indonesia (GCI), sebuah kebijakan yang menjadi salah satu solusi untuk menangani persoalan kewarganegaraan ganda.

GCI berupa izin tinggal baru tanpa batas waktu yang diberikan kepada warga negara asing (WNA) yang memiliki ikatan kuat dengan Indonesia melalui garis keturunan, hubungan keluarga, sejarah, atau hubungan emosional yang mendalam. Kebijakan ini membuka peluang bagi individu dari berbagai negara yang memiliki afiliasi dengan Indonesia.

“GCI merupakan solusi atas tantangan kewarganegaraan ganda dengan memberikan hak tinggal yang luas bagi WNA yang memiliki ikatan kuat dengan Indonesia, tanpa harus mengubah status kewarganegaraannya dan tanpa melanggar aturan negara lain. Kebijakan ini juga menunjukkan bahwa Indonesia mampu beradaptasi dengan dinamika global tanpa mengorbankan prinsip kedaulatan hukum terkait kewarganegaraan,” ujar Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.

Agus menambahkan bahwa kebijakan serupa telah diterapkan di beberapa yurisdiksi, seperti Overseas Citizenship of India (OCI). Penerapan kebijakan sejenis di berbagai negara menunjukkan kredibilitas dan kelayakan implementasi GCI di Indonesia. Ia menegaskan kesiapan Ditjen Imigrasi untuk menjalankan kebijakan yang berorientasi pada kepastian hukum, kemudahan layanan, dan daya saing internasional.

Subjek yang memenuhi syarat untuk mengajukan GCI meliputi WNA yang merupakan mantan WNI, keturunan mantan WNI hingga derajat kedua, atau pasangan dari WNI. Selain itu, setiap pernikahan antara WNI dan WNA juga dapat menjadi dasar untuk memperoleh fasilitas GCI.

Namun, izin tinggal ini tidak berlaku bagi WNA yang berasal dari negara yang pernah menjadi bagian dari wilayah Indonesia, terlibat dalam gerakan separatis, atau memiliki latar belakang sebagai pegawai negeri, intelijen, atau anggota militer negara asing.

Pengajuan GCI dilakukan secara daring melalui platform evisa.imigrasi.go.id. Aplikasi terpadu ini menggantikan penerbitan Visa terbatas, penerbitan Izin Tinggal Terbatas (ITAS), perpanjangan Izin Tinggal Tetap (ITAP), dan Izin Masuk Kembali tanpa batas.

“Imigrasi Indonesia akan selalu merespons kebutuhan dan tantangan global. GCI membuktikan bahwa kebijakan imigrasi kita tidak statis, tetapi terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman,” tutup Menteri Agus.

(ADV/*)

Dr Anne Octavia memberikan edukasi kepada ibu hamil tentang penanganan anemia pada ibu hamil 

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Puskesmas Balikpapan Timur menggelar kegiatan edukasi mengenai pencegahan dan penanganan anemia pada ibu hamil, Kamis (20/11/2025), bertempat di ruang rapat Puskesmas Manggar Baru.

Kegiatan ini dihadiri oleh para ibu hamil yang telah terdata mengalami anemia dan difokuskan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya menjaga kadar hemoglobin selama kehamilan.

Acara menghadirkan narasumber Dr. Anne Octavia. Dr. Anne menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang secara khusus untuk memberikan pengetahuan langsung kepada ibu hamil yang membutuhkan pendampingan kesehatan tambahan. “Kegiatan hari ini dilaksanakan untuk meningkatkan awareness dan pemahaman terutama pada ibu hamil yang sudah terdata anemia,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa anemia pada ibu hamil memiliki hubungan erat dengan kasus stunting yang masih menjadi masalah serius di Kota Balikpapan. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting di Kota Balikpapan masih berada di kisaran 24 persen. “Ini adalah pendekatan dari hulunya.

Stunting bermula dari kondisi remaja putri dan ibu hamil yang anemia. Anemia salah satu faktor penyebab kekurangan gizi yang bisa meningkatkan risiko stunting dikemudian hari pada anak yang dilahirkan dari ibu yang anemia. Dan pada kegiatan ini fokusnya pada ibu hamil yang sudah terdata” jelasnya.

Dr. Anne juga memaparkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil secara nasional masih cukup tinggi. Mengacu pada Survei Kesehatan Indonesia 2023, tercatat 27,7 persen ibu hamil mengalami anemia, atau setara hampir tiga dari sepuluh ibu hamil mengalami anemia. “Idealnya tidak ada ibu hamil yang mengalami anemia. Karena itu, edukasi seperti ini penting untuk mencegah terjadinya anemia selama kehamilan dan perburukan anemia bagi yang ibu hamil yang sudah anemia,” tegasnya.

Di lapangan, pihak Puskesmas masih menghadapi tantangan dalam menjangkau seluruh sasaran. Dari 19 ibu hamil yang diundang, hanya 10 yang hadir pada kegiatan tersebut. Hambatan utamanya adalah keterbatasan waktu dan akses menuju fasilitas kesehatan. “Kita berusaha menjangkau mereka, tetapi ada keterbatasan dari sisi ibu hamil sendiri. Itu menjadi tantangan bagi kami,” tambah Dr. Anne.

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan mematahkan stigma terhadap anemia, Dr. Anne menekankan pentingnya edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan. “Penyuluhan seperti ini harus dilakukan secara rutin dan konsisten. Satu kali kegiatan tidak cukup untuk menjangkau semua sasaran,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Puskesmas Balikpapan Timur berharap para ibu hamil dapat lebih memahami bahaya anemia, serta pentingnya penanganan dini demi kesehatan ibu dan bayi.

(ADV/Puskesmas)

Plt Kepala Puskesmas Manggar Baru Balikpapan timur, Sri Winarti terus meningkatkan kemitraan dimasyarakat serta kader kesehatan 

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Dalam upaya memperluas jangkauan program kesehatan, Puskesmas Manggar Baru meningkatkan kerja sama dengan ketua RT, kader kesehatan, dan sekolah-sekolah di wilayah Balikpapan Timur.

Plt Kepala Puskesmas Manggar Baru, Sri Winarti, menegaskan bahwa kemitraan ini berperan penting dalam mendukung seluruh program puskesmas, mulai dari promosi kesehatan hingga kegiatan skrining. “Komunikasi dengan RT dan kader sangat penting. Mereka adalah perpanjangan tangan kami di lapangan. Sejauh ini semuanya mendukung program puskesmas,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa banyak kegiatan kesehatan yang tidak bisa berjalan maksimal tanpa dukungan kader. Para kader sering menjadi pihak pertama yang mengetahui kondisi warganya, termasuk terkait penyakit, balita berisiko, hingga masalah gizi. Selain RT dan kader, puskesmas juga memperkuat kolaborasi dengan sekolah, terutama untuk program UKS dan pemeriksaan kesehatan berkala. “Sekolah-sekolah di wilayah kami sangat kooperatif. Mereka selalu siap ketika kami menjadwalkan kegiatan kesehatan,” kata Sri.

Di bidang pelayanan, puskesmas tetap memastikan alur skrining berjalan sesuai standar. Setiap pasien diarahkan menjalani pemeriksaan awal sebelum menuju poli maupun farmasi. Tanggung jawab tambahan dari BPJS yang mewajibkan seluruh pasien terdaftar menjalani skrining juga menjadi fokus perhatian. “Prosedurnya harus tetap berjalan. Semua pasien wajib diskrining, baik yang datang pagi maupun sore,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa beberapa warga masih menemui antrean, terutama pada jam-jam padat. Namun, petugas selalu mengupayakan pelayanan cepat tanpa mengurangi ketelitian pemeriksaan. Sri juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan di lingkungan masyarakat, terutama untuk mencegah penyakit menular maupun tidak menular. “Edukasi rutin dari kader dan sekolah sangat membantu membentuk kebiasaan hidup sehat,” ujarnya.

Menutup keterangannya, Sri mengimbau masyarakat agar menjaga kebugaran dengan pola hidup sederhana. “Tidak perlu makanan mahal. Yang penting gizi cukup, serat terpenuhi, dan olahraga ringan dilakukan setiap hari,” pesannya.

(ADV/Puskesmas)

Plt Kepala Puskesmas Manggar Baru Balikpapan timur Sri Winarti 

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Puskesmas Manggar Baru terus melakukan percepatan dalam pengelolaan data pelayanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu layanan kesehatan masyarakat di Balikpapan Timur.

Plt Kepala Puskesmas Manggar Baru, Sri Winarti, menjelaskan bahwa program kesehatan sebenarnya telah berjalan normal, namun proses pemasukan data ke aplikasi pusat masih ditingkatkan agar laporan yang ditarik lebih lengkap dan akurat. “Programnya kami kerjakan terus, baik di dalam gedung maupun melalui layanan jemput bola. Yang masih perlu dikebut adalah input data agar seluruh capaian bisa terbaca di aplikasi,” ujar Sri Winarti saat ditemui Rabu (19/11/2025).

Ia menambahkan bahwa percepatan ini sudah dibahas dalam rapat internal bersama tim promosi kesehatan dan petugas data. Seluruh data CKG, termasuk pemeriksaan rutin, skrining penyakit tidak menular, hingga layanan kesehatan ibu dan anak, harus masuk ke sistem sebelum batas evaluasi bulanan.

Sri menegaskan bahwa data yang tertunda bukan karena tidak dikerjakan, melainkan karena beban administratif yang meningkat seiring bertambahnya program. “Input datanya yang belum terselesaikan. Pelayanan langsung ke masyarakat tetap berjalan, tetapi laporan digitalnya harus kami sinkronkan,” tuturnya.

Dalam proses pelayanan, puskesmas juga tetap menawarkan dua skema yaitu pelayanan dalam gedung dan layanan luar gedung bagi warga yang tidak dapat hadir langsung. Langkah ini dinilai efektif memperluas jangkauan pelayanan di wilayah Manggar Baru. Selain itu, koordinasi dengan RT, kelurahan, dan kader kesehatan juga terus diperkuat. “Komunikasi itu penting. Semua kegiatan kami informasikan ke para kader, dan mereka sangat mendukung, termasuk dalam pengumpulan data lapangan,” jelas Sri Winarti.

Ia berharap percepatan input data ini dapat meningkatkan kualitas pemantauan penyakit serta memudahkan evaluasi kinerja puskesmas. “Dengan data yang lengkap, intervensi bisa lebih tepat sasaran,” tegasnya.

Menutup penjelasan, Sri mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan melalui pola hidup teratur, istirahat cukup, dan konsumsi makanan bergizi. “Makan bergizi itu tidak harus mahal. Yang penting seimbang dan rutin olahraga meski hanya jalan kaki 15–30 menit,” pesannya.

(ADV/Puskesmas)

Plt Kepala Puskesmas Manggar Baru Balikpapan timur Sri Winarti 

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Puskesmas Manggar Baru merilis data penyakit tertinggi selama November 2025, yang menunjukkan bahwa kasus infeksi Saluran pernapasan Akut (ISPA) dan tekanan darah tinggi masih menjadi keluhan terbanyak di wilayah Balikpapan Timur.

Plt Kepala Puskesmas Manggar Baru, Sri Winarti, menjelaskan bahwa pola penyakit ini perlu diwaspadai karena dapat mencerminkan kondisi kesehatan masyarakat secara umum. “Yang banyak ditemukan di bulan November ini memang keluhan pernapasan , disertai kasus hipertensi. Beberapa penyakit pencernaan juga cukup sering ditemui,” jelasnya.

Berdasarkan data resmi puskesmas, nasofaringitis akut (common cold) menjadi kasus tertinggi dengan 895 kunjungan. Sementara itu, hipertensi esensial tercatat sebanyak 323 kasus. Kondisi ini menggambarkan masih tingginya faktor risiko penyakit tidak menular di masyarakat, terutama pola makan tinggi garam, stres, dan kurang aktivitas fisik.

Penyakit lainnya yang cukup dominan meliputi dispepsia (244 kasus), diare dan gastroenteritis infeksius (89 kasus), faringitis akut (85 kasus), demam tanpa penyebab jelas (81 kasus), cedera tubuh tidak spesifik (75 kasus), serta mual dan muntah (66 kasus).

Menurut Sri Winarti, tren tersebut penting untuk dianalisis agar puskesmas dapat menentukan prioritas edukasi. Rabu (19/11/2025) “Data ini sangat membantu kami menentukan langkah pencegahan, seperti edukasi PHBS, skrining, dan intervensi ke kelompok berisiko,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa meski tidak ada penyakit yang mendominasi secara ekstrem, Namun penyakit Infeksi Saluran pernapasan masih menjadi perhatian.

Perubahan cuaca dan mobilitas masyarakat tinggi disebutnya sebagai faktor yang berkontribusi. Puskesmas berencana meningkatkan edukasi kesehatan terutama untuk pencegahan penyakit musiman. “Warga diharapkan menjaga daya tahan tubuh, cukup minum, dan menghindari paparan asap—baik asap rokok maupun polusi rumah tangga,” katanya.

Sri juga mengingatkan pentingnya kontrol rutin bagi warga dengan penyakit kronis seperti hipertensi. “Jangan menunggu parah. Pemeriksaan tekanan darah bisa dilakukan di puskesmas atau saat kegiatan CKG,” imbaunya.

(ADV/Puskesmas)