
SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Menipisnya pasokan air akibat anomali iklim mulai memaksa sejumlah unit pembenihan ikan di Kutai Kartanegara (Kukar) menghentikan aktivitas untuk sementara. Kondisi ini mendorong Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar mengkaji langkah mitigasi, termasuk pemanfaatan sumur bor dan pompanisasi, agar kegiatan produksi benih tidak terus terganggu saat cuaca kering berlangsung.
Kepala DKP Kukar, Muslik, menjelaskan dampak kekeringan paling terasa pada unit pembenihan yang mengandalkan kolam tanah. Ketika air mulai surut hingga mengering, proses pembenihan sulit dipertahankan karena membutuhkan pasokan air yang cukup dan berkelanjutan.
"Untuk program budidaya, kondisi anomali iklim dan cuaca saat ini menjadi tantangan, terutama kegiatan pembenihan yang menggunakan kolam tanah. Ketika airnya mengering, tentu aktivitasnya ikut terkendala," ujar Muslik.
Menurutnya, keterbatasan air membuat sebagian unit pembenihan terpaksa menghentikan kegiatan sementara. Sementara itu, lokasi yang memiliki akses lebih dekat ke Sungai Mahakam relatif terbantu karena masih dapat memanfaatkan sumber air tersebut untuk menunjang aktivitas produksi. Salah satu lokasi yang memiliki keuntungan tersebut adalah balai benih di dekat Sungai Mahakam.
Keberadaan sumber air di sekitar lokasi memberi peluang bagi kegiatan pembenihan untuk tetap berlangsung di tengah kondisi cuaca yang kering. Menghadapi situasi tersebut, DKP Kukar mulai mempertimbangkan alternatif penyediaan air, di antaranya melalui pembangunan sumur bor dan penggunaan pompa. Meski demikian, penerapannya perlu memperhatikan kondisi lapangan serta ketersediaan sumber air di masing-masing unit pembenihan.
"Ke depan, mungkin bisa kita antisipasi melalui sumur bor atau pompanisasi. Ini menjadi salah satu upaya mitigasi agar ketersediaan air tetap terjaga, terutama ketika menghadapi kondisi cuaca seperti sekarang," tuturnya.
Muslik menambahkan, tingkat kerentanan setiap lokasi berbeda. Kolam yang jauh dari sungai maupun sumber air lain cenderung lebih mudah terdampak ketika pasokan air berkurang. Karena itu, penanganan tidak bisa dilakukan dengan satu pola yang sama untuk seluruh unit pembenihan.
Kebutuhan air, karakteristik lokasi, hingga kelayakan sarana pendukung perlu menjadi pertimbangan sebelum menentukan solusi. Pada kolam yang sudah mengalami kekurangan air, penghentian sementara pembenihan menjadi langkah yang sulit dihindari demi menghadapi keterbatasan kondisi di lapangan.
DKP Kukar berharap opsi sumur bor dan pompanisasi dapat menjadi bagian dari strategi antisipasi untuk mengurangi gangguan produksi benih ikan, terutama jika kondisi serupa kembali terjadi. Upaya tersebut juga diharapkan membantu menjaga keberlanjutan usaha perikanan budidaya di tengah perubahan iklim.
(ADV/Diskominfo Kukar)