
SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Pengembangan pertanian di Kutai Kartanegara (Kukar) diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang terintegrasi. Dua kawasan pertanian terpadu disiapkan menjadi pusat agroindustri, agroteknologi, agrobisnis, hingga agrowisata dengan melibatkan perguruan tinggi sebagai mitra pengembangan inovasi.
Kedua kawasan Pusat Kawasan Pertanian Terpadu (KPT) tersebut berlokasi di Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, dan Desa Karang Tunggal, Kecamatan Tenggarong Seberang. Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias, mengatakan pihaknya menjalin kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kerja sama itu salah satunya diwujudkan melalui pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa di kedua kawasan. Program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan akademik sekaligus menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan pertanian terpadu.
“Setiap ada program KKN, kami minta dilaksanakan di dua KPT ini. Sehingga teknologi atau inovasi yang dibuat mahasiswa bisa menjadi prototipe. Kalau memang memiliki peluang untuk dikembangkan, akan kami coba tindaklanjuti,” kata Ananias.
Ia menjelaskan, inovasi yang dihasilkan mahasiswa berpeluang dikembangkan menjadi prototipe untuk diuji sesuai kebutuhan di lapangan. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan akademik diharapkan tidak berhenti pada program pengabdian masyarakat, tetapi turut menghasilkan solusi yang relevan bagi pengelolaan kawasan pertanian.
Konsep KPT juga dirancang melampaui aktivitas budi daya. Kawasan ini diharapkan menjadi tempat pengembangan rantai usaha pertanian, mulai dari pengolahan dan pengemasan hasil panen hingga kegiatan pendidikan, pelatihan, serta wisata berbasis pertanian. Meski demikian, pengembangan kedua kawasan masih membutuhkan penyelesaian sejumlah fasilitas. Ananias menyebut bangunan utama telah rampung, tetapi sarana pendukung di dalamnya belum tersedia secara menyeluruh.
Pemenuhan fasilitas tersebut direncanakan berlanjut pada 2027. “Jadi baru bangunannya yang selesai, sementara sarana-sarana pendukung di dalamnya belum,” ungkapnya. Kendala lain datang dari kondisi lingkungan, terutama kemarau panjang dan keterbatasan sumber air. Situasi tersebut memengaruhi aktivitas pertanian di kedua lokasi dan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan peresmian kawasan belum dapat dilaksanakan.
Walaupun belum seluruh fasilitas tersedia, pemanfaatan awal kawasan sudah mulai berjalan melalui sejumlah kegiatan, termasuk KKN mahasiswa UGM. Keterlibatan perguruan tinggi diharapkan membantu mengidentifikasi potensi masing-masing lokasi sekaligus merumuskan inovasi yang dapat diterapkan secara bertahap.
Disketapang Kukar berharap pengembangan KPT dapat mempertemukan kegiatan produksi, penerapan teknologi, pengolahan hasil, dan peluang usaha dalam satu kawasan. Dengan dukungan sarana yang memadai serta kolaborasi lintas sektor, kedua lokasi tersebut diharapkan berkembang menjadi pusat pertanian terpadu yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Harapan kami, kawasan pertanian terpadu ini bisa menjadi pusat agroindustri, agroteknologi, agrobisnis dan juga agrowisata,” pungkasnya.
(ADV/Diskominfo Kukar)