
SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Kesiapan mesin belum cukup untuk menggerakkan pabrik pengolahan rumput laut di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Meski mesin telah tersedia dan menjalani uji coba, fasilitas industri tersebut masih membutuhkan anggaran sekitar Rp10 miliar agar pembangunan fisik dan sarana pendukungnya dapat dituntaskan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Burhanuddin, mengatakan kelanjutan pembangunan terkendala keterbatasan anggaran setelah rencana pembiayaan tahun ini terdampak rasionalisasi belanja daerah. “Mesin sudah tersedia di dalam bangunan dan sempat dilakukan uji coba. Namun, masih ada beberapa pekerjaan fisik yang harus dituntaskan, sementara anggaran yang direncanakan untuk melanjutkan pembangunan terdampak pemangkasan,” ujar Burhanuddin.
Salah satu pekerjaan yang masih harus diselesaikan ialah penyempurnaan lantai bangunan agar sesuai dengan kebutuhan operasional mesin. Sejumlah fasilitas penunjang juga perlu dilengkapi supaya proses produksi nantinya dapat berjalan dengan baik.
Menurut Burhanuddin, penyelesaian pekerjaan fisik sebelumnya telah direncanakan menggunakan anggaran tahun ini. Namun, penyesuaian belanja membuat kebutuhan dana tersebut belum dapat dialokasikan sesuai rencana. “Awalnya, penyelesaian pekerjaan fisik direncanakan menggunakan anggaran tahun ini. Karena ada rasionalisasi belanja, alokasi tersebut belum tersedia. Kami berharap pada tahun depan ada anggaran yang bisa digunakan untuk melanjutkan pembangunan,” katanya.
Disperindag Kukar berharap kebutuhan pembiayaan tersebut dapat masuk dalam perencanaan anggaran berikutnya. Kepastian anggaran menjadi penting agar pembangunan tidak terus tertunda dan aset yang telah tersedia bisa segera dimanfaatkan. Pabrik ini dirancang untuk mengolah rumput laut menjadi tepung, sehingga komoditas yang dihasilkan pembudidaya tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Melalui proses pengolahan, rumput laut diharapkan memiliki nilai tambah dan dapat dipasarkan sebagai bahan baku untuk berbagai kebutuhan industri. Keberadaan fasilitas tersebut juga berpotensi membuka peluang pengembangan industri berbasis komoditas lokal di Kukar. Namun, manfaat ekonomi itu masih bergantung pada penyelesaian pembangunan, kelengkapan sarana operasional, serta kesiapan pabrik untuk memulai produksi.
Dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp10 miliar yang masih harus dipenuhi, Disperindag Kukar berharap pembangunan dapat dilanjutkan pada tahun depan. Penyelesaian fasilitas menjadi langkah penting agar investasi yang telah ditanamkan tidak berhenti pada ketersediaan bangunan dan mesin, tetapi benar-benar menghasilkan aktivitas industri dan nilai tambah bagi daerah.
(ADV/Diskominfo Kukar)