Dinkes Kukar Perkuat Penanganan Stunting, Targetkan Turun ke 12,2 Persen

Foto : Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufiddah.

SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat upaya penurunan stunting melalui keberlanjutan berbagai program kesehatan, mulai dari pemberian makanan tambahan (PMT), penguatan kader posyandu hingga menghadirkan dokter spesialis anak ke wilayah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan penanganan stunting menjadi salah satu program kesehatan yang terus mendapat perhatian pemerintah daerah. Menurutnya, program tersebut harus tetap berjalan meski capaian penurunan stunting menunjukkan perkembangan. “Ini memang masih perlu kita kejar dan perlu di-maintenance. Angka kematian balita, penurunan stunting, dan pencapaian indikator SPM masih menjadi program prioritas,” ujar Ismi.

Berdasarkan data per September 2026, angka stunting di Kukar berada di kisaran 14,2 persen. Capaian tersebut masih sesuai dengan target yang ditetapkan, namun pemerintah daerah tetap menargetkan penurunan hingga sekitar 12,2 persen.

Dalam tiga tahun terakhir, angka stunting di Kukar disebut mengalami penurunan. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan secara rutin untuk mencegah munculnya kembali kasus stunting. “Walaupun angka yang kita capai sekarang masih di bawah target nasional, program kesehatan tidak bisa kita hentikan. Kalau kita lengah, nanti kasus bisa muncul kembali,” ujarnya.

Salah satu langkah yang terus dilakukan Dinkes Kukar ialah pemberian PMT lokal melalui puskesmas. Program tersebut menyasar ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK), serta bayi dan balita yang mengalami stunting. Untuk ibu hamil, salah satu indikator yang digunakan dalam melihat risiko KEK ialah pengukuran lingkar lengan atas (LILA).

Ibu hamil dengan LILA di bawah 23 sentimeter menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dan penanganan. PMT yang diberikan disusun oleh tenaga gizi dengan memperhatikan kebutuhan makanan seimbang, seperti karbohidrat, protein dan zat gizi lainnya. Bahan makanan yang digunakan juga diupayakan berasal dari pangan lokal yang mudah diperoleh masyarakat. Pembiayaan program tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk bantuan operasional kesehatan dari pemerintah pusat maupun APBD Kukar.

Selain itu, Pemkab Kukar menggandeng Yayasan Cipta untuk memperkuat penanganan stunting melalui pelatihan kader posyandu dan petugas kesehatan. Program percontohan atau pilot project juga dijalankan di wilayah Loa Janan dan Tenggarong Seberang.

Dinkes Kukar juga mengembangkan upaya dengan menghadirkan dokter spesialis anak ke daerah yang memiliki kasus stunting dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. Langkah ini dilakukan agar masyarakat di wilayah yang sulit mengakses layanan spesialis tetap mendapatkan pemeriksaan dan penanganan. Ismi menambahkan, data stunting terus diperbarui melalui dashboard yang diinput secara berkala.

Sistem tersebut membantu pemerintah memantau perkembangan kasus sekaligus menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih. Salah satu wilayah yang masih menjadi perhatian ialah Desa Badak Baru, Kecamatan Muara Badak. Faktor akses menjadi salah satu hal yang terus dipantau pemerintah melalui data dan pelayanan di lapangan. “Intinya, upaya penurunan stunting, penanganan KEK pada ibu hamil, serta program kesehatan lainnya akan terus dilakukan dan dipantau agar capaian yang sudah diperoleh dapat dipertahankan, sekaligus ditingkatkan,” ucapnya.

Pemkab Kukar berharap kesinambungan program tersebut dapat menjaga capaian penurunan stunting sekaligus memastikan ibu, bayi, dan balita di berbagai wilayah mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan serta pemenuhan gizi yang memadai. (ADV/Diskominfo Kukar)