Puskesmas Manggar Baru Perkuat Sinergi dengan Kader dan Guru PAUD untuk Optimalkan Tumbuh Kembang Anak

Kegiatan program stimulasi deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang di TK/Paud Manggar Baru

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Upaya peningkatan kualitas tumbuh kembang anak di wilayah Manggar Baru tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan.

Puskesmas menegaskan bahwa keberhasilan program Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) sangat dipengaruhi oleh keterlibatan berbagai elemen, mulai dari kader kesehatan, guru PAUD, hingga orang tua.

Hal tersebut disampaikan oleh Penanggung Jawab Program Anak, Siti Rukayah, A.Md.Keb, yang menyebut kolaborasi lintas sektor sebagai kunci keberhasilan pemantauan tumbuh kembang, (26/11/2025) Menurut Siti, pelaksanaan SDIDTK memang dilakukan oleh petugas kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan khusus.

Namun, cakupan masalah tumbuh kembang tidak dapat ditangani sepenuhnya tanpa kontribusi pihak lain. Karena itu, puskesmas juga memberikan edukasi dan berbagi pengetahuan kepada kader yang setiap hari berinteraksi langsung dengan masyarakat. Kader menjadi perpanjangan tangan petugas, terutama dalam menyampaikan materi stimulasi dini kepada orang tua.

Selain kader, dukungan guru PAUD dan pihak sekolah juga sangat menentukan. Guru memiliki kesempatan melihat perilaku dan perkembangan anak setiap hari, sehingga dapat memberikan catatan penting kepada petugas kesehatan. “Dari sekolah, responsnya sangat positif. Mereka bahkan menyambut kedatangan kami karena pemeriksaan ini membantu menilai kesiapan anak dalam proses belajar,” ujar Siti.

Ia menambahkan, pola asuh orang tua menjadi faktor yang sering luput dari perhatian. Kesibukan, pekerjaan, dan kurangnya waktu mendampingi anak membuat sebagian orang tua tidak menyadari adanya keterlambatan tumbuh kembang. Melalui kegiatan SDIDTK, orang tua diberi pemahaman mengenai pentingnya stimulasi yang konsisten serta bagaimana memperhatikan tanda-tanda ketidaksesuaian perkembangan.

Setelah pemeriksaan, petugas biasanya memberi penjelasan mengenai langkah stimulasi yang dapat dilakukan di rumah. Termasuk, terapi sederhana untuk anak yang mengalami keterlambatan bicara. Siti menegaskan bahwa edukasi kepada orang tua menjadi fondasi kuat agar intervensi dapat berjalan berkesinambungan dan tidak bergantung pada fasilitas kesehatan saja.

Ia berharap sinergi lintas program, dukungan kader, serta komitmen sekolah dan orang tua dapat menjadikan program SDIDTK sebagai gerakan bersama. “Tujuan akhirnya adalah menciptakan generasi yang sehat, berkembang optimal, dan siap menghadapi masa depan,” tutupnya.

(ADV/Puskesmas)