KKT Perkuat Budaya Manajemen Risiko Demi Operasional Aman dan Berkelanjutan

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) terus memperkuat penerapan budaya manajemen risiko sebagai bagian penting dalam menjalankan setiap aktivitas operasionalnya.

Kesadaran kolektif mengenai pentingnya pengelolaan risiko kini menjadi fokus utama perusahaan demi menciptakan lingkungan kerja yang aman, produktif, dan berkelanjutan. Direktur Keuangan, SDM, dan Manajemen Risiko PT KKT, Faisal Napu, menegaskan bahwa manajemen risiko tidak hanya menjadi tanggung jawab satu divisi, tetapi harus melekat pada seluruh elemen organisasi.

“Setiap insan KKT wajib memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mengenali serta mengendalikan risiko di lingkungannya. Everybody is Risk Manager. Dengan prinsip itu, kita bisa bekerja lebih aman dan efisien,” ujarnya saat menutup kegiatan validasi Risk Maturity Index (RMI) di Balikpapan, Kamis (23/10/2025).

Kegiatan validasi RMI ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem tata kelola risiko yang diterapkan di seluruh lini perusahaan. Melalui proses cross validation, setiap tim risiko dari anak perusahaan PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) berperan sebagai evaluator, guna memastikan obyektivitas dan kualitas penilaian.

Selama tiga hari, tim melakukan pemeriksaan dokumen, wawancara, serta observasi lapangan untuk mengukur tingkat kematangan sistem manajemen risiko yang dijalankan KKT. Menurut Faisal, validasi ini tidak hanya berfungsi sebagai evaluasi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bersama untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko di lingkungan perusahaan. “Manajemen risiko adalah bagian dari budaya kerja. Dengan disiplin dan kolaborasi, kita bisa menjaga integritas operasional, keselamatan kerja, serta kepercayaan para stakeholder,” tegasnya.

Sementara itu, Vice President Risiko PT Pelindo Terminal Petikemas, Abdulloh Makhrus, memberikan apresiasi atas keseriusan KKT dalam memperkuat budaya tata kelola risiko. “Pendekatan KKT menunjukkan komitmen tinggi terhadap penerapan risk management yang terintegrasi. Ini bukan sekadar kepatuhan, tetapi strategi untuk memastikan keputusan bisnis diambil secara terukur dan berorientasi pada keberlanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, validasi RMI menjadi bagian penting dari upaya SPTP membangun ekosistem risiko yang adaptif dan kolaboratif di seluruh anak perusahaan, sekaligus memperkuat daya saing dan keandalan operasional di masa depan.

(ADV/R)