Dinkes Balikpapan Intensifkan Vaksinasi, Kasus Campak Terkendali Meski Tetap Berstatus KLB

Kepala Dinas Kesehatan Kota Alwiati

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN – Dinas Kesehatan Kota Balikpapan memastikan langkah penanganan kasus campak terus diperkuat setelah adanya peningkatan kasus dalam beberapa waktu terakhir. Fokus utama diarahkan pada pemantauan kontak erat dan pemberian imunisasi tambahan bagi anak-anak yang belum lengkap vaksinasinya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, mengungkapkan bahwa sebagian kasus campak terjadi karena anak tidak mendapat imunisasi sejak kecil. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari anggapan orang tua bahwa setelah usia satu tahun anak tidak perlu lagi booster, hingga kendala saat pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

“Ada anak yang saat program BIAS tidak diimunisasi karena sakit, tetapi setelah sembuh tidak dilaporkan untuk mendapatkan imunisasi susulan. Inilah yang menjadi tantangan,” jelas Alwiati.

Sebagai kota dengan mobilitas tinggi, Balikpapan memang rawan terhadap penyebaran penyakit menular. Karena itu, pihaknya aktif melakukan sosialisasi melalui media, radio, hingga kelurahan.

“Begitu ada laporan kasus, tim kesehatan langsung turun bersama lurah setempat untuk pemeriksaan dan vaksinasi. Alhamdulillah, masyarakat cukup kooperatif dan bersedia untuk divaksinasi ulang,” ujarnya.

Alwiati menegaskan, mayoritas penderita campak adalah anak yang tidak pernah divaksinasi sama sekali. Meski demikian, ada juga anak yang sudah divaksin namun masih tertular dengan gejala lebih ringan.

“Vaksin memang tidak membuat seseorang kebal sepenuhnya, tetapi terbukti mencegah gejala berat. Sedangkan anak yang tidak pernah divaksin tidak memiliki antibodi, sehingga lebih rentan,” tegasnya.

Menurutnya, jumlah kasus campak di Balikpapan saat ini mulai menurun berkat gencarnya vaksinasi. Meski demikian, status Kejadian Luar Biasa (KLB) tetap ditetapkan karena sempat terjadi lonjakan kasus. “Kriteria KLB itu jika ada peningkatan signifikan atau sampai menimbulkan kematian.

Syukurlah di Balikpapan tidak ada yang meninggal, tetapi karena lonjakan kasus maka status KLB diberlakukan,” terang Alwiati.

Ia menambahkan, Balikpapan sebenarnya sudah lama tidak mengalami KLB campak. Namun, penetapan status saat ini menjadi langkah penting agar respons cepat, terkoordinasi, dan edukasi masyarakat bisa berjalan maksimal.

(ADV/Diskominfo Balikpapan)