
SWARAREPUBLIKA.com, SURABAYA – Penurunan produksi dari sejumlah sumber minyak masih menjadi persoalan besar bagi industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Sekitar 70 persen produksi minyak nasional saat ini berasal dari lapangan yang telah memasuki fase penurunan produksi.
Kondisi tersebut membuat upaya menjaga produksi minyak nasional semakin berat. Terlebih, dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun terakhir, belum ditemukan lapangan minyak baru dengan kapasitas besar yang mampu menggantikan penurunan produksi dari lapangan yang sudah beroperasi.
Persoalan tersebut disampaikan Managing Director Pertamindo, Alexander Ginting, dalam Media Gathering SKK Migas–Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Kalimantan dan Sulawesi 2026 di DoubleTree by Hilton Surabaya, Senin (2/11/2026).
Alexander menjelaskan, sebagian besar lapangan minyak di Indonesia telah beroperasi selama puluhan tahun. Seiring bertambahnya usia lapangan, kemampuan produksinya secara alamiah akan menurun meskipun berbagai teknologi peningkatan produksi telah diterapkan. Ia mencontohkan Blok Rokan yang dikelola Pertamina Hulu Rokan.
Lapangan tersebut telah beroperasi sejak 1952 dan pernah menjadi salah satu penghasil minyak utama di Indonesia. “Secara natural, memang begitulah sifat lapangan minyak dan gas. Ada mulai naik produksinya, kemudian mendatar, lalu pada satu saatnya akan menurun,” ujarnya.
Menurut Alexander, tantangan berikutnya adalah keterbatasan lapangan baru yang dapat memberikan tambahan produksi dalam jumlah besar. Sejumlah lapangan yang tengah dikembangkan diperkirakan hanya mampu menghasilkan sekitar 20 ribu hingga 30 ribu barel minyak per hari.
Jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk mengimbangi penurunan produksi dari lapangan-lapangan yang sudah beroperasi, terlebih kebutuhan minyak nasional masih mencapai jutaan barel per hari. Karena itu, strategi industri hulu migas tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperlambat penurunan produksi dari lapangan yang masih beroperasi.
“Bisnis SKK Migas dan KKKS sekarang dalam hal minyak adalah menaikkan produksi, tetapi juga berusaha menahan laju penurunan,” katanya.
Ia memperkirakan Indonesia masih akan menghadapi ketergantungan terhadap impor minyak dalam beberapa tahun mendatang. Sebab, penemuan cadangan baru hingga dapat dikembangkan menjadi sumber produksi komersial membutuhkan proses dan waktu yang panjang.
Di tengah kondisi tersebut, gas bumi juga dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung peralihan menuju energi yang lebih bersih. Perkuat Kolaborasi dengan Media Selain persoalan produksi, penguatan komunikasi antara industri hulu migas dan media turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut.
Kepala Perwakilan SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi, Haryanto Syafri, mengatakan media memiliki peran penting dalam menyampaikan perkembangan industri hulu migas kepada masyarakat. Menurutnya, kegiatan hulu migas memiliki tahapan yang panjang dan kompleks, mulai dari survei, eksplorasi, pengeboran, pengembangan lapangan hingga produksi.
Pemahaman terhadap proses tersebut diperlukan agar informasi yang diterima masyarakat tetap akurat dan berimbang. “Media memiliki peran yang sangat penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Di tengah arus informasi yang bergerak begitu cepat, media bukan hanya menjadi penyampai berita, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kepentingan, perspektif, dan pemahaman publik,” kata Haryanto.
Ia menjelaskan, Media Gathering SKK Migas–KKKS Kalimantan dan Sulawesi 2026 mengusung tema Beyond the Headlines, Membangun Energi, Menguatkan Kolaborasi. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang komunikasi terbuka sekaligus memperkuat hubungan antara SKK Migas, KKKS, dan insan pers.
Sementara itu, Ketua Panitia Media Gathering Wilayah Kalsul 2026, Muhammad Anugerah Lukytha, mengatakan kerja sama dengan media diperlukan untuk memastikan informasi mengenai industri hulu migas tersampaikan secara tepat kepada masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa kecepatan pemberitaan harus tetap diimbangi dengan akurasi, keberimbangan, dan manfaat informasi. Menurutnya, media tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga berperan membuka ruang dialog dan mengawal kepentingan publik.
Melalui kegiatan tersebut, ia berharap hubungan antara SKK Migas, KKKS, dan insan pers semakin erat serta didukung komunikasi yang terbuka dan berkelanjutan.
(R)